Renungan Harian 521 (Sabtu, 1 Februari 2020)

Sudah Selesai

Devotion from Yohanes 19:28-37

Setelah Yesus meminum anggur asam itu, Dia pun berkata, “sudah selesai”. Seluruh narasi Injil Yohanes mencapai puncaknya pada peristiwa kematian Yesus di kayu salib. Apakah yang terjadi ketika Yesus mati di kayu salib? Apakah yang menjadi selesai? Tentu saja apa yang dikisahkan sejak awal Injil ini, itulah yang menjadi selesai di atas kayu salib. Injil Yohanes mengajarkan tentang Sang Firman yang menjadi manusia, Pemberi hidup yang adalah terang manusia. Dia menciptakan segala sesuatu, dan segala sesuatu berbagian di dalam penciptaan yang Dia lakukan. Dan Dia yang menciptakan segala sesuatu adalah Dia yang juga menjadi Sumber bagi penciptaan baru. Tetapi tidak semua berbagian di dalam penciptaan baru yang Dia kerjakan. Di dalam Dia ada hidup, dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan, dan kegelapan tidak dapat menguasai terang. Tetapi tidak semua mau datang kepada terang itu. Manusia lebih menyukai kegelapan daripada terang. Tetapi setiap orang yang menerima Dia mendapatkan kuasa untuk menjadi anak-anak Allah. Anak-anak yang tidak dilahirkan melalui cara penciptaan yang lama, yaitu secara fisik oleh hubungan seksual antara laki-laki dan perempuan, tetapi melalui cara penciptaan yang baru, yaitu dari Roh Kudus. Orang-orang yang percaya kepada Kristus. Orang-orang yang dilahirkan dari atas, itulah anak-anak Allah itu. Yesus datang untuk memulai suatu penciptaan baru. Dialah yang membawa manusia yang baru, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya, untuk memenuhi bumi dan menaklukkannya di dalam keadaan yang baru, yaitu sebagai anak-anak Allah. Dialah Sang Raja yang datang untuk menjadi Raja yang sejati. Raja yang memperbarui ciptaan ini. Raja yang membawa umat-Nya masuk ke dalam suatu keadaan baru yang penuh dengan damai sejahtera. Dialah Sang Adam terakhir yang membawa semua orang yang berada di dalam Dia untuk menjadi orang-orang yang hidup, yaitu orang-orang yang tunduk kepada rencana Allah (Rm. 5:12-21). Ciptaan baru sedang dimulai dengan kedatangan-Nya ke dalam dunia. Ciptaan baru itulah yang diumumkan dengan pengajaran dan tanda-tanda oleh Yesus Kristus. Ciptaan baru itu jugalah yang dengan tuntas dikerjakan Yesus Kristus hingga tiba waktunya Dia kembali kepada Bapa-Nya di surga.

Ciptaan baru itu akan dimulai dengan sempurna melalui keadaan runtuh dan hancur dari yang lama. Inilah cara yang Tuhan kerjakan sejak awal. Dari dalam gelap Dia berfirman dan jadilah terang (Kej. 1:3). Dari keadaan kacau balau dan kosong Dia menjadikan ciptaan yang teratur dan berlimpah (Kej. 1:2, 31). Dari orang yang sudah mati pucuk Dia memberikan seorang anak untuk memulai keturunan yang sangat besar (Ibr.11:12). Dari Mesir Tuhan memulai panggilan kepada sebuah bangsa besar yang hanya menjadi budak di sana (Kel. 3:6-8). Dari tengah puing-puing kehancuran, Tuhan akan membangun kembali Yerusalem yang telah dimusnahkan Babel (Yer. 29:10). Dari keadaan hanya tinggal tulang belulang, Tuhan akan membangkitkan tentara besar bagi Israel (Yeh. 37:1-10). Dan puncak dari semuanya itu, Tuhan akan memulai umat-Nya yang baru dari kematian mereka, dimulai dari kematian Juru Selamat mereka! Sebuah biji gandum harus mati dipendam dulu baru tumbuh tanaman yang akan memberi banyak hasil (Yoh. 12:24). Dari kematian akan muncul hidup. Kematian ditelan di dalam kemenangan. Sengat maut dikalahkan oleh umat Tuhan yang baru ini. Siapakah yang mengalahkan kematian? Umat Tuhan. Bagaimana mungkin mereka mengalahkan kematian? Karena Sang Kepala mereka, yaitu Kristus Yesus, Juru Selamat mereka, telah mengalahkan kematian. Melalui kematian-Nya tumbuhlah gandum yang menghasilkan banyak berkat. Melalui satu benih, tumbuhlah seluruh pohon yang menghasilkan buah dengan limpahnya. Di atas kayu salib inilah pekerjaan Tuhan menjadi genap untuk dimulai. Yesus mempersiapkan semuanya di dalam hidup-Nya, dan pada akhir hidup-Nya Dia menyelesaikan tugas-Nya untuk menjadi Raja yang membawa ke bumi ini ciptaan baru milik Allah, Bapa-Nya di surga. Dia menginaugurasikan Kerajaan Allah yang terdiri dari manusia-manusia yang baru. Dia menyatakan Kerajaan yang tidak akan takluk oleh apa pun melalui hidup-Nya di bumi dan memuncak pada kematian-Nya di atas kayu salib.

Dengan kematian Kristus, ciptaan yang baru itu telah sempurna dipersiapkan. Itulah sebabnya Yesus berkata, “sudah selesai”. Dosa ditaklukkan di atas kayu salib, murka Allah dinyatakan di atas kayu salib, pengampunan menjadi sempurna di atas kayu salib, benih ciptaan yang baru telah “dipendam” di atas kayu salib, keadaan yang lama dari dunia penuh dosa dan menuju kebinasaan menjadi mati di atas kayu salib, dan puncak dari pembuangan umat Tuhan menjadi genap di kayu salib. Perkataan Yesus “sudah selesai” membuat fakta kematian Yesus harus diinterpretasi sebagai kemenangan dari Kerajaan Allah yang sekarang dinyatakan dengan sempurna di dunia ini. Siapa pun yang melihat kematian-Nya di atas kayu salib akan percaya kepada fakta bahwa Yesus mati di kayu salib. Tetapi tidak semua bisa menginterpretasi dengan tepat makna kematian Yesus kecuali mereka memahami perkataan “sudah selesai” yang Yesus katakan, dan segala tanda-tanda yang terjadi di atas kayu salib. Bahkan, Yohanes memberikan tanda yang sangat halus dan tidak terlalu terlihat. Setelah ciptaan baru itu diselesaikan di atas kayu salib oleh Tuhan Yesus, maka hari Sabat pun akan tiba keesokan harinya (ay. 31). Inilah simbol penting yang dipahami oleh Yohanes. Pada hari ke-6 Allah menciptakan langit, bumi, dan segala isinya dengan sempurna dan “sungguh amat baik” (Kej. 1:31), dan setelah itu masuklah Sabat, hari ke-7. Yesus Kristus menggenapi ciptaan yang baru melalui kematian-Nya di atas kayu salib, dan setelah itu masuklah Sabat. Yohanes masih memberikan penjelasan lain agar kita dapat menginterpretasi kematian Kristus dengan cara yang tepat. Yohanes mencatat penggenapan dari dua bagian Alkitab mengenai kematian Yesus, Sang Mesias. Yang pertama adalah Keluaran 12:46 dan Mazmur 34:20-21. Dua bagian ini berbicara tentang tulang yang tidak dipatahkan. Dalam Keluaran 12:46 Tuhan mengajarkan orang Israel untuk tidak mematahkan tulang binatang yang mereka sembelih sebagai korban Paskah. Di dalam Mazmur 34:20 tulang yang tidak dipatahkan menjadi lambang penyertaan Tuhan di tengah-tengah penderitaan yang sangat berat sekalipun. Yesus adalah Sang Domba Paskah. Tidak satu pun dari tulang-tulang-Nya yang dipatahkan. Jika seseorang disalib dan tidak juga mati dalam waktu yang terlalu lama, maka tentara yang menjaga akan mempercepat kematian dia dengan mematahkan kakinya. Tetapi ini tidak terjadi pada Tuhan Yesus karena Dia telah lebih dahulu menyerahkan nyawa-Nya. Bagian kedua yang dilihat Yohanes adalah Zakharia 12:10. Ayat ini berbicara tentang pemulihan Yerusalem melalui kesadaran orang-orang yang tinggal di dalamnya. Mereka akan dipulihkan setelah mereka meratap dan memandang kepada orang yang tertikam. Sangat sulit untuk memahami bagian ini. Siapakah yang telah ditikam oleh penduduk Yerusalem? Tetapi Yohanes melihat penggenapan dari Zakharia 12:10 dinyatakan dengan sangat jelas. Ketika tentara yang berjaga ingin memastikan kematian Yesus, dia menikam lambung Yesus dengan tombak. Yerusalem telah memandang Dia yang ditikam di dalam bukitnya, dan tinggal menanti waktu ketika mereka akhirnya meratap dan menyadari siapa yang telah tertikam itu. Pada waktu itulah Yerusalem akan dipulihkan, dan bangsa-bangsa lain akan ditarik untuk pulih, menjadi satu umat, satu Kerajaan di bawah pemerintahan Allah (Za. 12:8). Inilah cara yang benar untuk memahami makna kematian Yesus Kristus.

Kematian Yesus di kayu salib telah membuat ciptaan yang baru itu tiba dengan penuh kuasa. Kuasa yang menaklukkan kerajaan-kerajaan, kuasa yang menaklukkan maut, dan kuasa yang menghancurkan kuasa dunia ini, menggantinya dengan damai sejahtera dari Allah. Bumi yang baru sedang disiapkan, dan umat yang baru, yang dipanggil keluar melalui kematian Yesus di atas kayu salib adalah orang-orang yang akan mempersiapkannya. Inilah makna kematian Kristus. Dia telah memulai ciptaan yang baru itu. Sudahkah kita diperbarui di dalam Dia? Sudahkah kita mengerjakan yang kita jalani sehari-hari sebagai bagian dari ciptaan baru yang sedang mengganti dunia yang lama? Sudahkah kita melihat pengabaran Injil dan pekerjaan orang-orang Kristen di tengah-tengah masyarakat sebagai kelanjutan dari pekerjaan Yesus yang tuntas di atas kayu salib? Pengabaran Injil, maupun mandat budaya yang dikerjakan oleh umat Tuhan merupakan cara ciptaan yang baru itu bekerja. Panggilan orang Kristen untuk menginjili dan untuk bekerja di dalam segala aspek hidup di dunia ini merupakan cara Kerajaan Allah menaklukkan kerajaan-kerajaan dunia ini. Semua ini menjadi sempurna tiba di dunia ini melalui kematian Yesus dan menjadi tersebar hingga ke ujung bumi melalui orang-orang yang percaya kepada Yesus.  Sudahkah kita ada di dalam semua ini? (JP)