Renungan Harian 526 (Kamis, 6 Februari 2020)

Johannine Credo

Devotion from Yohanes 1:49, 3:2, 6:69, dan 20:26-31

Yohanes memberitakan tentang Yesus, Sang Mesias yang datang dari surga untuk memperbarui bumi. Dia memperbarui bumi ini melalui memulihkan umat milik Allah yang terdiri dari banyak bangsa. Mereka yang dipulihkan ini mempunyai pengakuan iman tentang Sang Mesias ini. Pengakuan iman yang diwarisi dari pengharapan orang Israel di Perjanjian lama, yaitu pengharapan tentang datangnya Sang Raja Israel, Anak Daud. Tetapi pengakuan ini juga membuat orang Israel harus me-reinterpretasi, atau menginterpretasi ulang pemahaman mereka tentang Sang Mesias. Mereka tidak mengerti tiga hal, yaitu bahwa Sang Mesias datang dari surga, juga bahwa Sang Mesias pergi ke dunia orang mati, dan bahwa Sang Mesias akan kembali ke surga. Tiga hal inilah yang ditekankan oleh Yohanes di dalam Injilnya. Setidaknya ada empat bagian di mana dia berusaha menjelaskan tentang keempat hal ini di dalam narasi Injilnya.

Yohanes 1:49. Di dalam bagian pertama ini, Natanael mengeluarkan pengakuan iman yang sangat penting bagi orang Yahudi. Dia mengakui bahwa Yesus adalah Anak Allah, Raja orang Israel. Ini pengakuan iman yang sangat terkenal bagi orang Yahudi. Mereka mengakui bahwa raja yang Tuhan janjikan untuk membawa mereka menjadi Kerajaan milik Allah adalah Sang Anak Allah ini. Mazmur 2:6-7 mengajarkan hal ini. Sang Anak Allah diangkat oleh Allah di surga dan Dia dilantik menjadi Raja. Tetapi apakah pengertian orang Yahudi tentang ayat ini sudah tepat? Belum tentu. Natanael mengakui bahwa Yesus adalah Anak Allah, Raja orang Israel karena Yesus dapat melihat ketika dia berada di bawah pohon ara. Kuasa sedemikian besar yang dimiliki Yesus membuat Natanael percaya bahwa Yesuslah Mesias. Tetapi Yesus memberikan penekanan untuk memastikan pengakuan iman itu dipahami dengan tepat. Di dalam ayat 51 Yesus mengajarkan tentang keadaan di mana langit terbuka dan malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia. Arah pengakuan iman ini mulai berada pada titik yang akurat. Natanael percaya bahwa Anak Allah turun untuk menjadi Raja Israel, tetapi Yesus memberikan arah yang lebih besar lagi, yaitu bahwa Anak Allah turun untuk membuka jalan bagi surga dan bumi bersatu. Bagaimanakah caranya Dia membawa langit dan bumi bersatu? Yohanes membukakan ini di dalam narasi-narasi selanjutnya.

Yohanes 3:2. Di dalam bagian ini Nikodemus mengaku kalau Yesus itu diutus oleh Allah. Pengakuan ini sangat tidak tajam. Apakah maksudnya diutus oleh Allah? Yohanes Pembaptis diutus oleh Allah. Nabi-nabi juga diutus oleh Allah. Apakah Yesus juga diutus oleh Allah? Tentu saja. Tetapi, berbeda dengan para nabi, Yesus diutus dari surga ke dunia. Itu sebabnya Yesus mengatakan bahwa hanya orang yang dilahirkan dari atas saja yang mengerti bahwa Dia diutus dari surga. Siapakah mereka yang lahir dari atas? Orang-orang yang dilahirkan oleh Roh Kudus, itulah mereka yang lahir dari atas. Lalu apa yang menjadi akibat dari seorang dilahirkan kembali? Orang yang lahir kembali akan mengerti perlunya Anak Manusia ditinggikan di atas kayu salib. Sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian Anak Manusia harus ditinggikan (ay.14-15). Inilah ajaran yang akan membentuk pengakuan iman Yahudi secara radikal. Yesus adalah Anak Allah dan Raja Israel. Dia akan membawa surga dan bumi bersatu. Dan pasal 3 menjelaskan bahwa Dia membawa surga dan bumi bersatu karena kasih Bapa, dan bahwa bersatunya surga dan bumi hanya mungkin jika Dia ditinggikan di atas kayu salib. Salib harus menjadi bagian dari pengakuan iman orang Yahudi. Tanpa salib tidak ada pengertian yang sejati akan siapakah Mesias.

Yohanes 6:69. Petrus menyatakan pengakuan yang sangat penting. Di saat para murid yang lain meninggalkan Yesus, dua belas orang murid utama-Nya ini tetap bersama dengan Dia. Mengapa mereka tidak pergi? Jawaban Petrus mewakili para murid. “Kami sudah tahu bahwa Engkau adalah yang Kudus dari Allah,” demikianlah pengakuannya. Yesus, yang Kudus dari Allah. Ini adalah pengakuan yang dinyatakan Petrus setelah Yesus mengatakan bahwa diri-Nya adalah roti yang akan dipecahkan bagi banyak orang. Dia harus dipecahkan. Yang Kudus dari Allah tidak menikmati kekudusan-Nya bagi ketenangan hidup-Nya sendiri. Sebaliknya, Dia memecahkan diri-Nya bagi banyak orang. Jika orang Yahudi memahami roti sebagai simbol eskatologi, yaitu simbol zaman akhir, di mana Kerajaan Israel akan dipulihkan dan orang-orang benar diajak makan semeja dengan Tuhan sendiri, maka Yesus menyatakan bahwa diri-Nyalah yang akan membawa zaman akhir itu. Dia akan membawa orang-orang pillihan untuk makan semeja dengan Tuhan. Tetapi Dia membawa mereka ke meja perjamuan Allah dengan cara diri-Nya menjadi roti bagi mereka. Dia menyerahkan diri bagi umat pilihan Allah dengan memecahkan diri-Nya bagi mereka. Kerajaan Allah dipulihkan melalui Sang Raja memecahkan diri-Nya. Raja-raja dunia menghancurkan lawan mereka untuk membawa kerajaan mereka ke tempat musuh mereka. Yesus Kristus memecahkan diri-Nya untuk membawa Kerajaan-Nya ke dunia ini.

Kerajaan Allah yang akan di bawa ke dunia ini oleh Kristus akan terjadi dengan membawa surga dan bumi bersatu. Takhta Tuhan di tengah-tengah manusia. Kerajaan Allah juga didirikan dengan salib. Salib Kristus membawa Kerajaan Allah ke tengah-tengah manusia. Kerajaan Allah membangkitkan umat-Nya melalui pengorbanan Kristus. Kristus membawa surga ke bumi, membawanya dengan salib, dan membawanya dengan menyerahkan diri-Nya sebagai roti yang terpecah. Dan pada pasal 20, Tomas menyatakan pengakuan yang sangat agung, “Ya Tuhanku dan Allahku!” Yesus, setelah menanggung dosa umat-Nya, menjadi satu-satunya yang layak ditinggikan. Peninggian dan kemuliaan yang menjadi milik-Nya karena kerelaan-Nya untuk menebus umat-Nya. Dia telah menjalankan apa yang harus Dia jalankan, yaitu salib. Kini Dia telah dibangkitkan, dan murid-murid-Nya mengakui Dia sebagai Mesias, Allah menjadi manusia, yang datang dari surga untuk membawa rencana keselamatan Allah ke bumi ini.

Siapakah Yang kita percaya di bumi? Yesus Kristus? Sebagai apa? Orang Yahudi melihat Dia dengan sudut pandang yang sempit. Raja, Anak Allah, Mesias, Anak Daud… semua ini sebutan-sebutan yang sangat tinggi dan agung. Tetapi keagungan yang mereka pahami masih berada di dalam keadaan duniawi. Sedangkan Tuhan Yesus mengajarkan keagungan demi membawa surga ke bumi. Bagaimana surga di bawa ke bumi? Dengan memusnahkan orang-orang berdosa di bumi? Tidak. Dengan Sang Raja memberikan diri-Nya untuk dikorbankan di atas kayu salib, memecahkan diri-Nya bagaikan roti untuk dimakan demi keselamatan umat-Nya. Dengan mengalami peristiwa salib, kematian, dan kebangkitan Yesus, Tomas dengan sangat tepat mewakili pengertian pengakuan iman yang sejati. “Ya Tuhanku dan Allahku!” Tuhan dan Allah yang mengasihi, berkorban, dan membawa kemuliaan-Nya turun ke bumi untuk dinikmati umat tebusan-Nya. Tomas menyerukan hal ini karena telah melihat Dia menderita, mati di salib, dan bangkit. Tetapi kita yang tidak melihat justru lebih berbahagia. Yesus mengatakan di dalam ayat 29 bahwa mereka yang percaya tanpa melihat, merekalah yang berbahagia. Bagaimana kita percaya? Karena melihat? Bukan. Karena firman-Nya telah mendapat tempat di hati kita. (JP)