Renungan Harian 528 (Sabtu, 8 Februari 2020)

Apakah Engkau Mengasihi Aku?

Devotion from Yohanes 21:15-19

Setelah makan bersama, Yesus bertanya kepada Petrus. Pertanyaan Yesus di dalam bahasa Yunani adalah seperti demikian: “apakah engkau mengasihi Aku (agapas me) lebih daripada semua ini (pleon touton)?” Pertanyaan yang tidak main-main. Yesus menuntut murid-murid-Nya untuk mempunyai komitmen kepada Kristus dan Kerajaan Allah yang lebih besar daripada komitmen apa pun yang pernah atau akan dibuat oleh mereka. Kasih kepada Allah yang disertai dengan komitmen untuk mengutamakan Allah sebagai yang dikasihi lebih daripada apa pun merupakan bagian dari perjanjian dengan Tuhan sejak dari zaman Perjanjian Lama. John Calvin di dalam Institutes-nya mengatakan bahwa kasih yang suam-suam kuku dan hati yang hanya sedikit di atas perasaan tidak peduli adalah sesuatu yang tidak boleh diberikan kepada Tuhan. Komitmen seperti ini yang seharusnya dimiliki Israel. Sekarang Tuhan menuntut komitmen yang sama dari Israel yang baru, yaitu orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus.

Pertanyaan ini dijawab oleh Petrus dengan jawaban demikian (dengan bahasa Yunani yang dipakai oleh Yohanes): “ya Tuhan (nai, Kyrie), Engkau tahu (su hoida) bahwa aku mengasihi Engkau (hoti philo se).” “Philo se” sebenarnya berarti “aku rekanmu”. Petrus tidak menjawab apakah dia mengasihi Yesus atau tidak, dia menjawab bahwa dia adalah sahabat Yesus. Jawaban yang tidak tajam, sangat ambigu. Seolah Petrus mengatakan bahwa seharusnya dia mengasihi, tetapi juga sekaligus menghindari menjawab kalau dia mengasihi Tuhan. Petrus yang telah menyangkal Yesus tiga kali tahu bahwa dia tidak benar-benar mengasihi Tuhan. Dia mengatakan “philo se” yang di dalam budaya Yunani (baik karena dipengaruhi Aristoteles, maupun karena dipengaruhi Stoisisme, terutama pemikiran seorang bernama Epictetus) berarti “teman sevisi”. Baik Aristoteles maupun Epictetus sangat berpengaruh untuk memberikan pengertian tentang persahabatan. Siapakah seorang sahabat itu? Seorang sahabat, menurut mereka, adalah orang yang menikmati dan dinikmati kehadirannya oleh sahabatnya. Sahabat pasti berbagian di dalam niat, sifat, sikap, dan visi hidup. Sahabat membentuk persekutuan yang memiliki bobot yang sejati, tidak seperti perkumpulan orang yang tidak berbagian di dalam perasaan berelasi yang sama. Apakah orang yang berbagian di dalam visi yang sama seharusnya saling mengasihi? Ya. Jika demikian, seharusnya jawaban Petrus adalah, “ya Tuhan (nai, Kyrie), aku rekanmu (philo se), aku mengasihimu (egapesa se).” Tetapi Petrus tidak bisa mengatakan, “aku mengasihimu (egapesa se).” Mengapa tidak? Karena dia jujur. Dia tahu dia tidak sanggup mengasihi Tuhan. Dia berjanji memberikan nyawanya, tetapi yang dia berikan justru mulut yang menyangkal bahwa dia adalah murid dari Yesus dari Nazaret (Yoh. 18:17, 25-27). Murid (mathetes) memiliki ikatan lebih rendah daripada rekan (phileo). Murid dianggap lebih rendah dan pertanggungjawaban keterlibatan dengan kasus sang guru tentu lebih rendah juga dibandingkan seorang rekan. Sedangkan rekan dianggap setara, sehingga pertanggungjawaban keterlibatan dengan kasus seorang yang menjadi rekannya dianggap lebih besar daripada seorang murid. Petrus dituduh menjadi murid, belum dianggap rekan komplotan Yesus, dan dia telah menyangkalnya! Betapa besar dosanya! Dengan keadaan seperti ini, bagaimana mungkin Petrus berani mengklaim kalau dia mengasihi Yesus? Dia adalah rekan Yesus. Itu saja. Jika rekan dituntut untuk mengasihi, Petrus belum berani mengatakan kalau dia telah mengasihi.

Maka Yesus bertanya untuk kedua kalinya, “apakah engkau mengasihi Aku (agapas me)?” Yesus tidak lagi memakai “lebih daripada semua ini (pleon touton)”. Yesus mengurangi tuntutan-Nya bagi komitmen Petrus. Dia tidak lagi menuntut Petrus untuk mengasihi Dia lebih daripada segalanya. Yesus hanya bertanya, “apakah engkau mengasihi Aku (agapas me)?” Itu saja. Menjawab pertanyaan kedua ini Petrus mengatakan hal yang sama dengan jawaban pertamanya, “Engkau tahu (su hoida) bahwa aku rekan-Mu (hoti philo se).” Jawaban yang sama. Tuhan Yesus mengurangi tuntutan-Nya dan Petrus tidak berani menaikkan komitmennya. Petrus sudah tahu bagaimana rasanya memberikan komitmen karena dorongan emosi, tetapi tidak dipelihara dengan konsisten. Ketika waktu krisis tiba, komitmen emosi meluap hilang. Lenyap ditelan ketakutan yang mendorong Petrus untuk menyangkal Yesus tiga kali.

Maka Yesus bertanya untuk ketiga kalinya. Tiga pertanyaan yang menebus kembali tiga penyangkalan Petrus. Untuk ketiga kalinya Tuhan Yesus mengubah pertanyaan-Nya. Jika pertama Dia bertanya “apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada semua ini?” dan kedua Dia menghilangkan “lebih daripada semua ini”, maka kali ketiga Dia tidak lagi memakai kalimat “agapas me”. Dia bertanya, “apakah engkau rekan-Ku (phileis me)?” Pertanyaan yang menghancurkan hati Petrus. Maka Petrus pun menjawab sama persis dengan yang Yesus tanyakan. Dia menjawab, “ya Tuhan (nai, Kyrie), Engkau tahu bahwa aku rekan-Mu (su hoidas hoti philo se). Yesus menunjukkan cara yang sama untuk memanggil Petrus dengan cara yang Dia pakai untuk menebus dunia. Bagaimanakah cara Yesus menebus dunia? Dengan cara turun menemui dunia di tempat di mana dunia berada. Tetapi setelah itu Dia kembali ke Surga dan mengangkat dunia untuk berada di tempat di mana Diapun berada. Demikian juga ketika Dia memanggil Petrus. Dia turun menemui Petrus di tempat di mana dia berada, untuk mengangkat Petrus agar dia berada di tempat yang seharusnya, yaitu di tempat di mana Yesus pun berada. Maka Yesus mengatakan di dalam ayat 18 bahwa Petrus akan sanggup mengasihi Dia. Petrus akan dibawa ke tempat yang menakutkan, bahkan akan mati bagi Yesus. Sesuai dengan janji yang pernah Petrus ucapkan, dia benar-benar mati bagi Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamatnya! Tetapi Petrus sanggup menjadi seorang yang berani mati bagi Yesus, setelah terlebih dahulu Yesus menurunkan diri untuk bertemu dengan dia. Di tempat dia berada, di situlah Yesus menjumpainya. Yesus memberikan tuntutan yang sesuai dengan apa yang sanggup dia tanggung, tetapi Yesus akan menuntut hingga Petrus sanggup menanggung dengan sempurna semua beban yang Tuhan percayakan untuk dipikulnya. Tuhan menjumpai kita semua dengan cara demikian. Dia menemui kita di tempat di mana kita berada. Dia memanggil kita dan membebankan apa yang pada saat ini sanggup kita pikul. Dia tidak memberikan lebih daripada apa yang sanggup kita tanggung. Tetapi Dia akan terus menambah beban itu. Dia membimbing kita untuk tidak terus menerus berada di tempat di mana saat ini kita berada. Kita harus bertumbuh. Kita harus semakin menyerupai Dia. Kita harus berada di mana tuntutan-Nya yang sempurna menuntut kita berada. Itulah sebabnya pertumbuhan rohani kita menuju kedewasaan dapat terjadi. Terjadi karena Yesus rela turun untuk berada di tempat kita saat ini berada, dan mengangkat kita untuk bertumbuh menjadi lebih sanggup, lebih kuat, lebih taat, lebih dewasa, hingga saatnya kita bertemu dengan Dia.

Apakah tujuan Tuhan membimbing Petrus sedemikian? Supaya dia menggembalakan domba-domba Kristus. Petrus harus menggembalakan domba-domba Kristus dengan cara yang sama dia telah digembalakan oleh Kristus. Sang Gembala Agung rela menemui Petrus di tempat dia berada, dan membimbing dia menuju pertumbuhan sejati sehingga dia sanggup mengasihi Tuhan. Demikian juga sekarang Petrus harus menggembalakan domba-domba Kristus dengan cara yang sama. Inilah tugas yang Tuhan percayakan kepada Petrus, dan kepada para pemimpin rohani di dalam gereja Tuhan. Sama seperti Kristus telah menggembalakan kita, demikian kita harus menggembalakan domba-domba-Nya yang Dia percayakan kepada kita. (JP)