Renungan Harian 62 (Senin, 29 Oktober 2018)

Daud Dipulihkan

Devotion from:

2 Samuel 12:16-31

Bagian bacaan kita untuk hari ini mengatakan bahwa Daud berpuasa dan berbaring di lantai demi kesembuhan anaknya. Daud sangat memohon kepada Allah untuk kesembuhan anaknya. Tuhan tidak mendengarkan doa Daud. Tuhan memberikan tulah kepada anak Daud dan Batsyeba (ay. 15) dan akhirnya membunuh anak itu (ay. 18). Semua pegawai-pegawai Daud takut memberitakan ini kepada Daud. Waktu anaknya sakit saja Daud menyiksa diri sampai sedemikian, apalagi waktu anaknya sudah mati. Jangan-jangan Daud malah bunuh diri. Mereka terus bisik-bisik sampai akhirnya Daud mengetahui bahwa anak itu sudah mati. Penghukuman Tuhan dimulai, tetapi juga bersamaan dengan dipulihkannya Daud. Dalam bagian selanjutnya hukuman Tuhan terus berlanjut, tetapi begitu juga dengan pemulihan rohani Daud. Maka setelah mendengar anaknya sudah mati (dan ini menjadi awal penghukuman Tuhan bagi Daud), Daud segera bangkit, membersihkan diri, dan masuk ke rumah Tuhan untuk sujud menyembah Tuhan. Setelah itu barulah dia pulang dan makan. Daud memohon dengan sangat, tetapi tidak memaksa Tuhan. Jika Tuhan belum jawab, dia akan terus ngotot minta kepada Tuhan. Jika Tuhan sudah tolak, dia berhenti meminta dan tunduk kepada jawaban Tuhan. Maka Daud pulang ke rumah, menghibur istrinya, yaitu Batsyeba, dan tidur dengan dia. Tuhan memberikan anak kepada Daud melalui Batsyeba, dan anak itu dinamai Salomo. Tuhan mengasihi anak ini dan inilah anak yang akan Tuhan jadikan sebagai penerus Daud. Penerus Daud? Lahir dari perempuan yang pernah berzinah dengan Daud? Mengapa cara Tuhan seperti ini? Cara Tuhan yang bijak dan benar adalah seperti ini untuk menunjukkan bahwa janji Tuhan kepada Daud melalui keturunannya mencakup janji pemulihan yang sanggup Tuhan kerjakan. Tuhan memulihkan umat-Nya dari keadaan yang sangat rusak menjadi keadaan yang baik. Tuhan memulihkan Daud dan Batsyeba, yang memulai hubungan mereka dengan perzinahan dan pembunuhan, tetapi dipulihkan dengan seorang anak yang telah dijanjikan sebagai penerus takhta Daud. Melalui anak inilah Tuhan akan mendirikan Bait Suci-Nya.

Bukan saja Tuhan memberikan anak sekali lagi kepada Daud melalui Batsyeba, Tuhan juga memulihkan kekuatan Daud. Kisah perang dengan orang Amon yang seperti dilupakan karena diselingi oleh kisah besar tentang kejatuhan Daud, tetap berlangsung, dan Tuhan memberikan kemenangan kepada Israel. Tuhan kembali mengokohkan takhta Daud. Ayat 26 dan 27 menyatakan bahwa Yoab dan pasukannya telah menaklukkan Raba dan telah merebut tempat persediaan air sehingga membuat rakyat yang terkepung makin terdesak. Setelah berhasil mendesak orang Amon, maka Yoab meminta Daud untuk membawa seluruh pasukan dan menaklukkan seluruh orang Amon. Maka Daud maju dan menghancurkan kota Raba milik orang Amon, menaklukkan raja Hanun, dan mengambil mahkota raja itu untuk menyatakan kekuasaan Israel ada pada Amon. Tuhan tetap memulihkan Daud dan tetap memelihara kekuatan pasukan Israel sehingga orang Amon tunduk kepada Israel.

  1. Kaitan bagian ini dengan seluruh Kitab 2 Samuel

    Bagian ini merupakan kisah yang seharusnya melanjutkan 2 Samuel 10:19. Bersamaan dengan terjadinya perang dengan bani Amon, Daud berzinah dengan Batsyeba. Maka ketika Daud bertobat dan kembali kepada Tuhan, kitab ini dengan sangat indah menutupnya dengan kemenangan atas Amon. Penempatan yang memberikan kita pesan bahwa Tuhan tetap menyertai Daud dan tidak menghilangkan kasih setia-Nya kepada Dinasti Daud seperti Dia dulu telah menghilangkan kasih setia-Nya kepada Dinasti Saul (2Sam. 7:15). Bagian ini juga menjadi pembuktian akan kesetiaan Tuhan terhadap janji-Nya dalam 2 Samuel 7:15 tersebut. Cara penulisan kitab ini menempatkan kejatuhan Daud dan pemulihan yang Tuhan kerjakan menyatakan bahwa Tuhan adalah setia. Seolah-olah Tuhanlah yang diuji oleh kejatuhan Daud. Apakah Tuhan tetap akan memakai Daud setelah dia jatuh? Jawabannya adalah ya. Tuhan tetap menyatakan kesetiaan-Nya kepada Daud. Bahkan, lebih lagi, Tuhan malah memakai Batsyeba untuk memberikan anak yang Tuhan janjikan kepada Daud. Tuhan membangkitkan Salomo bukan dari Mikhal, anak Saul. Juga bukan dari Abigail, perempuan cantik yang penuh bijaksana, tetapi dari Batsyeba, perempuan cantik yang berdosa zinah dengan Daud. Tuhan menyatakan kesetiaan-Nya dengan memberikan pengampunan kepada Daud dan memulihkan dia kembali, serta tetap mengokohkan kerajaannya.

  2. Apakah yang dapat kita pelajari?

    Kata-kata Daud dalam 2 Samuel 7:25 dan 29 menjadi nyata. Dalam ayat 25 Daud berdoa seperti ini: “Dan sekarang, ya TUHAN Allah, tepatilah untuk selama-lamanya janji yang Kau-ucapkan mengenai hamba-Mu ini dan mengenai keluarganya dan lakukanlah seperti yang Kaujanjikan itu.” Ini berarti Daud menyadari bahwa satu-satunya yang dapat membuat dia dan keluarganya tetap ada di hadapan Tuhan adalah karena kasih karunia Tuhan. Dia tidak sanggup menjalani hidup yang lebih baik dari Saul. Dia pada akhirnya akan terpeleset, dan tanpa tangan Tuhan yang menopang, tentu dia sudah harus dibuang sama seperti Saul dibuang. Inilah yang perlu kita renungkan dengan sungguh-sungguh. Kita semua tidak lebih baik dari orang lain yang berdosa. Hanya orang Farisi yang terus menipu diri dan merasa diri lebih baik dari orang lain. Kalau Saudara juga terjangkit penyakit Farisi-isme ini, maka saya mohon Saudara baca kembali baik-baik bagian bacaan kita hari ini ditambah 2 Samuel 7:25-29. Tuhanlah yang membuat kita tidak sebobrok orang lain. Jangan menganggap diri hebat. Jangan menganggap diri lebih baik dari orang lain. Daud pun tidak menganggap dirinya dan kaum keluarganya lebih baik dari Saul dan kaum keluarganya (2Sam. 7:18), dan karena itulah dia bersujud dan memohonkan doa ini. Tuhan pun menjawab doa ini karena meskipun Daud jatuh ke dalam dosa, Tuhan memulihkan dia kembali. Bukan Daud, tetapi Tuhan yang setia. Bukan kita, tetapi Tuhan yang sanggup. Kiranya kita terus berjuang untuk melawan dosa, hidup suci, dan tetap mengakui bahwa Allah sajalah yang beranugerah kalau kita sanggup berjuang dengan baik.

  3. Bayang-bayang Kristus

    Tuhan menjanjikan bahwa Anak Daudlah yang akan membangun bait bagi Allah. Yang dimaksudkan adalah Kristus, tetapi setiap janji di dalam Perjanjian Lama mempunyai penggenapan ganda (double fulfillment). Maka janji Tuhan itu digenapi di dalam kelahiran Salomo, dan nanti akan digenapi secara sempurna di dalam Kristus. Berarti Salomo adalah bayang-bayang pernyataan tentang Kristus di dalam Perjanjian Lama. Salomo menjalani panggilannya sebagai bayang-bayang dari apa yang akan dilakukan Kristus di dalam Perjanjian Baru. Apakah yang dinyatakan oleh Salomo sebagai bayang-bayang dari Kristus? Yang pertama adalah dia lahir dari seorang perempuan yang melambangkan dosa perzinahan dan pembunuhan Daud, yaitu Batsyeba. Salomo lahir dari ibu yang menjadi ingatan akan kejatuhan Daud. Ini juga yang menjadi ciri Kristus. Dia disebut orang Nazaret, sebutan untuk menghina Dia karena dari Nazaret tidak pernah muncul orang-orang yang baik secara agama. Dia lahir dari seorang perempuan yang harus menanggung aib karena sudah hamil sebelum dia menikah, meskipun kehamilannya bukanlah karena perzinahan. Kristus lahir dengan hal-hal yang remeh dan hina mengelilingi kelahiran-Nya. Tetapi justru di sinilah maksud Allah digenapi. Dia hadir untuk memberikan kemuliaan bagi yang hina. Dia hadir untuk memberikan pemulihan bagi yang berdosa. Dia hadir untuk mempermalukan orang yang merasa diri terhormat, mulia, dan suci. Dia hadir untuk memberikan penghiburan bagi orang yang menyadari dosa-dosanya dan mau bertobat kembali kepada Dia. Dia tidak alergi kepada orang berdosa dan hina. Dia mengidentikkan diri-Nya dengan orang berdosa dan orang hina (Ibr. 2:17) meskipun Dia sendiri tidak pernah berbuat satu dosa pun (Ibr. 4:15). (JP)

sumber: https://pemuda.stemi.id/