Renungan Harian 86 (Kamis, 22 November 2018)

Tempat Berdiam Sang Raja

Devotion from:

1 Raja-raja 7:1-12

Bacaan kita hari ini menggambarkan kemegahan istana Salomo. Ayat 1 mengatakan bahwa Salomo membangun istananya selama 13 tahun. Kita mungkin akan berpikir kalau Salomo mengutamakan rumah sendiri dari pada rumah Tuhan. Jikalau dia hanya membutuhkan tujuh tahun untuk membangun Bait Suci (1Raj. 6:38), tetapi membutuhkan 13 tahun untuk membangun istananya sendiri, bukankah ini berarti dia mementingkan diri sendiri? Tidak. Mengapa tidak? Karena penulis mengisahkan bagian ini dengan memasukkannya ke dalam satu pembahasan pembangunan Bait Suci. Perhatikan 1 Raja-raja 7:13. Bukankah ayat ini melanjutkan apa yang ditulis sebelumnya? Pembahasan ayat 12 juga adalah pembahasan tentang rumah Tuhan yang disatukan dengan seluruh pasal 7. Baru pada ayat 51 ada kalimat penutup bahwa segala pekerjaan yang dilakukan Salomo di rumah Tuhan menjadi genap. Jadi jika penulis membahas pembangunan istana Salomo dengan Bait Suci sebagai pembahasan yang satu dan utuh, kita tidak punya alasan untuk memandang negatif kemegahan istana Salomo. Salomo membangun istananya sebagai bagian dari simbol kehadiran Allah. Raja Salomo adalah simbol bagi raja yang akan dipilih Allah, yaitu Kristus. Dengan demikian, tempat kediamannya adalah simbol bagi kemuliaan Kristus yang akan datang kemudian. Penafsiran yang bertanggung jawab harus selaras dengan apa yang penulis ingin sampaikan, dan dalam bagian ini penulis kitab ini belum membahas hal negatif dari Salomo.

Apakah yang mau dinyatakan dengan kemegahan istana Salomo? Yang pertama adalah bahwa istana Salomo dibahas bersamaan dengan Bait Allah. Ini berarti Salomo bertakhta berdampingan dengan Bait Allah, yang adalah pernyataan kehadiran Allah. Anak Daud bertakhta bersama dengan Allah. Inilah yang digenapi oleh Kristus di dalam Wahyu 22:3. Takhta Anak Domba dan takhta Allah disebut bersama-sama untuk menunjukkan bahwa takhta Allah Tritunggal dinyatakan kepada manusia karena baik Anak Allah maupun Sang Bapa bertakhta di bumi.

Yang kedua adalah istana Salomo mempunyai tiga bagian ruangan utama. Gedung “Hutan Libanon” (ay. 2), balai Saka (ay. 6), dan balai Singgasana (ay. 7). Ruangan luar, ruangan dalam, dan ruangan khusus memberikan penghakiman. Ini paralel dengan tiga pembagian Bait Suci. Baik istana Salomo maupun Bait Suci melambangkan tiga realitas yang ada, yaitu seluruh manusia, umat Tuhan, dan tempat Tuhan berdiam. Tempat terdalam adalah balai di mana keputusan hukum diambil. Salomo sang hakim memutuskan perkaranya di ruang yang memberikan simbol kehadiran Tuhan.

Yang ketiga adalah untuk memberikan pengajaran bahwa istana dan tempat penghakiman adalah bagian yang dijalankan Salomo sebagai raja, sedangkan Bait Suci dan ruang maha suci adalah bagian pelayanan para keturunan Lewi sebagai imam. keduanya menggambarkan realitas surga tempat Allah berdiam. Bait Suci memberikan simbol bahwa Allah yang bertakhta akan mengundang umat-Nya untuk berdiam bersama-sama dengan Dia. Istana memberikan simbol bahwa Allah yang bertakhta akan menghakimi semua ciptaan-Nya. Raja dan imam menggambarkan dua hal yang akan Allah nyatakan. Hanya di Israel raja bukanlah Allah dan tidak punya otoritas agama milik para imam. Tetapi, meskipun menjalankan fungsi yang berbeda, satu pemerintahan, dan satu peribadatan, keduanya melambangkan karya yang akan dikerjakan oleh Anak Allah yang satu, yaitu Kristus. Kristus akan menebus dan membawa umat-Nya untuk berdiam bersama-sama dengan Allah Bapa, dan Kristus juga akan menghakimi semua bangsa-bangsa.

Ayat 8 melanjutkan pembahasan dengan menjelaskan tempat kediaman bagi Salomo. Tempat kediaman Salomo hanyalah bagian dari seluruh istana yang mempunyai fungsi pemerintahan dan pengadilan. Demikian juga istri Salomo diberikan tempat kediaman yang serupa dengan tempat kediaman Salomo sendiri. Kemewahan dan kemegahan istana itu digambarkan sangat indah sehingga layak menampung putri Firaun, walaupun kebudayaan Mesir jauh lebih diakui dari kebudayaan Israel pada waktu itu.

Untuk direnungkan:

  1. Baik istana maupun Bait Suci melambangkan dua hal yang akan Allah kerjakan melalui Anak-Nya, yaitu pemerintahan dan peribadatan. Tetapi, walaupun Anak Allah akan menggenapi keduanya, gambaran yang Allah pilih untuk menjadi simbol adalah gambaran dari dua kuasa yang sangat besar di dalam dunia, yaitu agama dan politik. Tuhan tidak mengizinkan Salomo menjadi penguasa dalam bidang agama, dan Tuhan juga tidak mengizinkan para imam menjadi penguasa dalam bidang politik. Inilah pemisahan yang Tuhan inginkan sehingga tidak ada satu orang pun di dalam sejarah kerajaan Israel yang boleh mengklaim kuasa atas keduanya. Salomo bertakhta di istananya dan memberikan penghakiman di balai Singgasana. Imam besar memimpin peribadatan dan membawa darah korban persembahan ke ruang maha suci. Tetapi kedua fungsi ini, baik raja maupun imam, akan digenapi oleh satu orang saja, yaitu Kristus, Anak Daud. Baik Salomo maupun imam menjadi gambaran akan Kristus yang akan datang untuk pertama kalinya. Demikian juga kita gereja-Nya. Kita sekarang menjadi gambaran akan Kristus yang akan datang untuk kedua kalinya. Gereja bertugas untuk menyatakan seperti apakah karya yang akan Allah lakukan melalui Kristus ketika kedatangan kedua-Nya nanti menggenapi semua rancangan Allah ini. Tetapi tidak satu pun dari kita yang cukup luas untuk menggambarkan apa yang akan Allah kerjakan melalui kedatangan Kristus kedua kalinya nanti. Masing-masing dari kita, seorang dengan yang lain, menjadi anggota yang menyatakan kemuliaan Kristus sambil menantikan kapan penggenapan kedatangan itu terjadi. Kita perlu orang lain, sesama pengikut Kristus, untuk menekankan karya Allah melalui masing-masing kita. Tidak ada one man show dalam kekristenan. Tidak ada super hero yang sanggup mengerjakan semuanya sendiri. Salomo tidak bisa menjalankan fungsi imam, dan imam besar tidak bisa menjalankan fungsi raja. Demikian juga kita hanya bisa menjalankan satu (atau beberapa) fungsi, tetapi tidak bisa menjalankan fungsi-fungsi yang lain. Kita perlu orang lain dan karena itu sebagai satu tubuh, gereja secara keseluruhanlah yang memberikan gambaran bagi dunia seperti apakah Kristus itu.

  2. Kehadiran takhta Salomo adalah untuk memastikan kebenaran dan keadilan Allah kita benar-benar dinyatakan melalui umat Tuhan. Salomo harus menjadi hakim yang tegas dan bijak untuk memutuskan perkara dan menyatakan kepada seluruh Israel bahwa sebelum Allah memulihkan seluruh ciptaan, keadilan dan kebenaran Allah harus dinyatakan terlebih dahulu. Allah sangat memperhatikan keadilan, terutama di tengah-tengah umat-Nya sendiri. Allah sangat peduli seruan mereka yang tertindas bahkan berjanji akan memberikan keadilan bagi mereka yang diperlakukan tidak adil. Seluruh istana Salomo mempunyai tempat pengadilan sebagai tempat utama. Tuhan akan memberikan damai sejahtera dan penyertaan kepada Israel setelah Dia menyatakan kebenaran dan keadilan-Nya. Dari sini kita boleh berefleksi bahwa Allah sangat menekankan keadilan-Nya dinyatakan. Sebuah bangsa tidak akan diberkati oleh Tuhan jika terjadi begitu banyak pelanggaran dan penindasan. Jika kekerasan dan kekejaman yang terus terjadi, maka pasti Tuhan belum beranugerah bagi tempat itu. Jika Tuhan berkenan untuk hadir dan memberikan penyertaan-Nya bagi umat-Nya, maka pertama-tama Dia akan menghakimi umat-Nya terlebih dahulu. Kiranya ini menjadi bahan perenungan kita. Jika pemerintahan yang baik adalah tujuan Allah membangkitkan raja-Nya, maka tentulah itu juga yang akan kita perjuangkan pada saat ini. Kita yang merindukan keadilan dan kebenaran, biarlah kita sendiri tidak melanggar prinsip kebenaran yang berlaku dalam kehidupan bersama di negara ini. Dan jika kita hidup nyaman dan tidak diganggu apa-apa, betapa kasihan kalau kita tidak pernah belajar mengenai apa yang sedang terjadi di dunia. Betapa jahatnya kita kalau kita tidak pernah mengeluh bersama-sama dengan orang yang tertindas dan berduka karena kebobrokan yang terjadi di tengah-tengah kita. Kiranya Tuhan memberikan hati yang terus berdoa. (JP)