Anak Lembu Emas

Devotion from :

Raja-raja 12:25-33

Kerajaan Israel kini terpecah dua. Kerajaan Yehuda dan kerajaan Israel. Yehuda dengan Yerusalem sebagai ibu kota, sedangkan Israel dengan Samaria sebagai ibu kota (pada Zaman Raja Omri, 1Raj. 16:24). Keturunan Daud, yaitu Rehabeam, menjadi raja di Yehuda. Yerobeam menjadi raja di Israel. Siapakah yang mengangkat Yerobeam? Tuhan sendiri. Bahkan Tuhan memberikan pemanggilan yang paralel dengan pemanggilan Daud. Tuhan mengutus seorang nabi dan membangkitkan seorang raja untuk diurapi karena raja sebelumnya telah memberontak kepada Tuhan. Hanya, jika dulu Daudlah raja yang diurapi karena raja sebelumnya, yaitu Saul, telah memberontak, maka sekarang anak Daud, yaitu Salomo adalah yang telah kehilangan kesetiaan dan Yerobeamlah yang diurapi menjadi raja. Tetapi Yerobeam pun jatuh ke dalam sifat haus kekuasaan yang sama dengan Saul. Dia tidak puas hanya menjadi seorang raja saja. Dia juga ingin menjadi pemimpin agama dari Israel. Dan, karena melihat begitu banyaknya orang-orang Israel yang harus pergi ke Yerusalem untuk beribadah, Yerobeam merasa perlu untuk membangun suatu tempat yang menjadi pusat peribadatan Israel. Ini melanggar firman Tuhan. Tuhan melarang orang Israel mempersembahkan korban di sembarang tempat jikalau tempat ibadah yang Tuhan tentukan telah Dia tunjukkan (Ul. 12:8-11). Karena motivasi kekuasaan Yerobeam mendirikan tempat ibadah. Dia takut kalau orang-orang Israel malah berpihak kepada Yehuda karena di sanalah tempat adanya Bait Suci. Ketakutannya inilah yang membuat dia melakukan apa yang Tuhan larang, yaitu menentukan sendiri apa yang dipandangnya benar sebagai tempat mempersembahkan korban (Ul. 12:8). Ketakutan ini jugalah yang membuat dia mencari pernyataan tentang Allah di luar Taurat Tuhan. Dia membentuk dua buah anak lembu emas.

Mengapa anak lembu? Karena pengaruh bangsa-bangsa kafir yang percaya bahwa dewa-dewa akan berwujud lembu kalau mereka datang ke bumi. Orang Mesir percaya kepada lembu bernama Apis, yang dipercaya sebagai perwujudan dewa. Itulah sebabnya Harun, ketika diminta untuk membuat allah bagi Israel, membentuknya dengan bentuk lembu. Baik Harun maupun Yerobeam sama-sama jatuh ke dalam penyembahan berhala karena mereka tidak mendengar firman Tuhan. Tuhan tidak mungkin diketahui oleh manusia kalau Dia sendiri tidak menyatakan diri-Nya. Tanpa pernyataan diri Tuhan, maka kita hanya bisa berspekulasi dan menebak-nebak seperti apakah Tuhan itu. Tentu kita tidak mungkin bisa menebak-nebak tanpa menghina kemuliaan Allah. Setiap bentuk yang dibuat untuk menggambarkan Allah adalah hal yang menghina kemuliaan nama-Nya. Yerobeam telah diangkat oleh Allah, tetapi segera sesudah itu, dia meninggalkan Allah dan memperkuat diri sendiri dengan giatnya.

Implikasi atau akibat dari dosanya sangatlah besar. Penyembahan berhala sangat serius bagi Tuhan. Tuhan sangat membenci dosa yang satu ini. Allah membencinya bukan hanya karena ini adalah dosa pengkhianatan dari ciptaan kepada Sang Penciptanya, tetapi karena penyembahan berhala akan menghancurkan manusia dan menurunkannya ke level mirip binatang. Keluaran 32 telah membuktikan hal ini. Bangsa Israel menyembah anak lembu emas dan setelah itu mereka melakukan perayaan yang sangat memalukan sehingga bangsa-bangsa kafir pun menghina mereka (Kel. 32:25). Surat Paulus kepada jemaat di Roma juga menyatakan hal ini. Manusia menolak menyembah Allah, menciptakan berhala-berhala dan menyembah ciptaan sambil mengabaikan Sang Pencipta, dan setelah itu jatuh ke dalam berbagai-bagai kecemaran, imoralitas seksual, dan homoseksualisme (Rm. 1:18-32). Tuhan membenci penyembahan berhala karena manusia akan diturunkan wibawanya dengan menyembah ciptaan. Mazmur 115:5-8 mengatakan bahwa kita akan menyerupai berhala yang kita sembah. Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kej. 1:26), dan dengan demikian dia akan makin menyerupai Allah, Sang Penciptanya, bila dia terus berpaut kepada Allah. Tetapi begitu dia berhenti menyembah Allah dan berpaut kepada-Nya, dia akan kehilangan sumber dari keberadaannya sebagai gambar. Jika dia menolak Allah, maka dia menjadi gambar siapa? Itulah sebabnya penolakan terhadap Allah membuat manusia hidup di dalam standar hidup yang rusak, cemar, dan menurunkan keberadaan manusia menjadi sama levelnya dengan seluruh ciptaan yang lain.

Yerobeam melanggar perintah pertama dari Allah (Kel. 20:3) demi kekuatan politiknya. Dia mau orang-orang Israel berhenti beribadah dengan cara yang benar karena itu mungkin akan membuat orang-orang Israel pindah ke Yehuda, dan itu akan merugikan pengaruh politiknya dan mengurangi kekuatan takhta kerajaannya. Yerobeam lupa bahwa alasan dia bisa bertakhta adalah karena Tuhan memberikannya kepada dia. Sekarang setelah dia menerima takhta itu, dia lupa bahwa Tuhan yang berkuasa memberi, Tuhan juga yang berkuasa mengambil (Ayb. 1:21). Demikianlah keadaan Yerobeam yang juga mirip dengan keadaan kita. Kita lupa bahwa Tuhanlah yang memberikan segala yang kita terima. Kita terus mengaku di mulut bahwa Tuhanlah yang memberi segala sesuatu, tetapi hati kita tetap percaya kepada dusta, yaitu bahwa tangan kita sendiri yang membuat kita memiliki apa yang kita miliki saat ini. Kita lebih suka mengabaikan perintah Tuhan dan melangkah melewati jalan kita sendiri karena sebenarnya kita tidak ingin tunduk kepada Dia. Yerobeam tidak membiarkan rakyatnya menyembah Allah dengan benar karena itu akan dapat membahayakan posisinya. Posisi yang diperoleh dari Allah! Bayangkan betapa tidak logisnya ini. Demi mencegah orang-orang Israel pergi ke Yehuda maka dia mendirikan tempat ibadah, mengangkat dirinya menjadi imam (ay. 33), dan menyeret seluruh bangsa jatuh ke dalam penyembahan berhala! Dosa Yerobeam membuat Israel, seluruh Israel, terkutuk dan terbuang dari hadapan Tuhan hingga seterusnya! Dosa-dosa Yerobeam bin Nebat adalah dosa-dosa yang identik dengan Israel hingga mereka dibuang ke Asyur sekitar 200 tahun kemudian. Bayangkan betapa rusaknya tindakan Yerobeam. Hanya demi takhta satu orang, dia menjerumuskan seluruh Israel generasi demi generasi ke dalam dosa. Inilah keberadaan manusia yang telah jatuh. Begitu egois. Begitu mementingkan hanya diri sendiri. Tidak peduli berapa banyak orang dirusak. Tidak peduli berapa banyak keluarga yang dihancurkan. Orang-orang yang terus menjual obat bius, dia tidak peduli berapa banyak orang hancur hidupnya karena tindakannya. Yang penting dia untung! Orang yang mementingkan ego sendiri lalu merusak orang lain, dia tidak peduli dampak perbuatannya, asalkan dia merasa lega. Orang tua yang tidak mau sungguh-sungguh mendidik anak, hanya tahu mengeluarkan semua amarah dalam dirinya adalah orang tua yang akan dibinasakan oleh Tuhan. Tidakkah engkau tahu berapa besar kerusakan yang dapat engkau sebabkan bagi hidup orang lain? Hidup anakmu dianggap sangat penting oleh Tuhan. Betapa berdosanya juga pemimpin-pemimpin besar yang menghancurkan kehidupan seluruh rakyatnya demi ideologi dan paham yang sempit? Berapa banyak korban gerakan komunisme di Rusia, Eropa Timur, Asia, dan Amerika Selatan? Berapa juta orang harus mati dan berapa belas juta harus menderita karena paham yang dianut oleh partai bernama Nazi? Kiranya Tuhan mengasihani kita sehingga kita tidak jatuh dalam dosa yang akhirnya merusak begitu banyak orang, atau yang memengaruhi satu orang sehingga dia pada akhirnya binasa. Yerobeam melihat takhtanya lebih penting dari jutaan orang yang tinggal di Israel. Dia melihat dirinya lebih berharga dari generasi demi generasi Israel sesudah dia.

Marilah kita sama-sama berbalik dari dosa. Terlalu banyak kerusakan terjadi akibat dosa mementingkan diri. Terlalu banyak penderitaan terjadi karena sifat egois. Orang yang ingin dirinya diistimewakan, akhirnya akan jatuh dalam berbagai-bagai dosa yang lain. Marah, dendam, iri hati, fitnah, dan membunuh nama baik orang lain demi dirinya sendiri. Mari berjanji kepada Tuhan untuk berbalik dari dosa-dosa yang dapat mengarahkan kita menjadi orang-orang seperti ini. (JP)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *