Oleh : Anita Jojor

“Teknologi tidak akan menggantikan guru hebat, tapi teknologi di tangan guru hebat akan transformasional” ~ George Couros

Inti tujuan penulisan ini sebenarnya untuk menyampaikan pikiran sederhana bahwa dengan satu aplikasi dalam teknologi saja jika digunakan dan dieksplor dengan maksimal akan dapat menghasilkan berbagai inovasi baru. Artinya bukan seberapa banyak aplikasi dalam teknologi itu kita ketahui dan manfaatkan namun seberapa jauh tahapan kita sudah menggunakan aplikasi tersebut sehingga menghasilkan tingkat kemahiran dalam pelaksanaannya di setiap proses belajar mengajar didalam kelas.

Teknologi sebagai sebuah media juga memiliki keterbatasan dalam memenuhi ketercapaian seorang pendidik di dalam kelas. Untuk itu tentunya kita memerlukan pemikiran yang Out of the box  untuk dapat mengekplorasi ide-ide yang kreatif yang tidak biasa dan tidak dibatasi atau dikendalikan oleh aturan atau tradisi. Maksudnya adalah bagaimana kita mulai melakukan transformasional dalam penggunaan teknologi, dimana satu kegiatan tidak dapat berjalan tanpa adanya teknologi. Disinilah dibutuhkan ekplorasi pikiran dari seorang pendidik agar dapat menciptakan suasana belajar yang benar-benar berubah dari biasanya bukan hanya sekedar memindahkan kelas offline kedalam kelas online namun dalam praktik belajarnya tidak mengalami perubahan.

Salah satu sekolah swasta terbaik di Jakarta Pusat yaitu Sekolah Kristen Ketapang melihat fenomena ini sebagai sesuatu yang harus mulai dibenahi dengan meningkatkan kompetensi Sumber Daya Pendidik didalam memandang penggunaan teknologi dalam praktik belajar mengajar. Dalam tahapan kematangan penggunaan teknologi, Sekolah Kristen Ketapang menjadi salah satu sekolah swasta yang memperlengkapi Bapak/Ibu guru untuk dapat berada dalam tahapan standar yang harus dimiliki oleh setiap pendidik yaitu Tahap Modifikasi yang nantinya diharapkan dapat terus berkembang menjadi tahap redifinisi. Tentunya langkah ini sangat baik untuk memberikan pelayanan belajar mengajar yang baik bagi peserta didik ditengah-tengah kondisi bangsa kita yang sedang mengalami perubahan dalam pelaksanaan pendidikan saat ini yang kita kenal dengan sistem pembelajaran Hybrid Learning.

Mengapa tahapan modifikasi menjadi tahapan standar yang sangat baik dalam pelaksanaan Hybrid Learning ?. Penulis merujuk kepada pemikiran Ruben R Puentedura yang mengenalkan metode kematangan teknologi dengan sebutan SAMR yaitu Substitusion, Augmentation, Modification dan Redifination. Dalam masing-masing tahapan tentunya memiliki sasaran tersendiri. Tahap Substitusion adalah tahap kegiatan belajar masih sama dengan sebelumnya ketika tidak menggunakan teknologi, artinya praktik belajar mengajar masih dengan metode ceramah dan berpusat kepada guru. Tahap Augmentation adalah tahap kegiatan belajar mengajar yang mulai berubah dengan mengesksplorasi teknologi lebih intensif, menggunakan fitur-fitur baru lainnya, dalam tahapan ini pembelajaran sudah berlangsung dua arah dimana adanya umpan balik intensif untuk murid baik secara individu ataupun kelompok. Tahapan Modification adalah tahap kegiatan belajar mengajar yang mengalami perubahan yang sangat signifikan, dimana dalam tahap ini pembelajaran sudah berpusat kepada peserta didik, proses belajar mengajar memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk dapat berdiskusi dengan kelompoknya dan memberikan ruang dalam penggunaan teknologi. Tahapan Redifination adalah tahap kegiatan belajar mengajar yang sudah berubah total, dimana kegiatan belajar-mengajar bukan lagi mendorong peserta didik untuk berkarya didalam kelas tetapi sudah berdampak sosial dan penggunaan teknologi bisa dimanfaatkan juga bagi masyarakat luas.

            Dari penjelasan tersebut, kita dapat melihat bahwa tahap modifikasi adalah tahapan yang sangat baik untuk bisa dijadikan tahapan standar kematangan dalam penggunaan teknologi pada proses belajar mengajar. Maka itu Sekolah Kristen Ketapang memberikan solusi terbaik bagi peserta didik untuk dapat menerima pembelajaran pada proses Hybrid Learning dengan optimalisasi penggunaan teknologi. Tentunya tidak hanya sampai kepada tahap modifikasi namun tahap redifiniasi juga akan menjadi standar dalam pelaksanaan belajar mengajar.