Bohong sebagai Hasil Peniruan

­­­­­­­­Sumber Artikel : Buku “Psikologi Anak Bermasalah oleh Ny. Singgih D. Gunarsa – BPK Gunung Mulia 2004, Hlm 26-28”

Bohong sebagai Hasil Peniruan

dari: Mr.Maratur (SKK 3)

Seringkali orangtua atau orang dewasa lainnya tidak menyadari bahwa mereka telah menambah “bumbu” pada waktu menceritakan suatu peristiwa yang juga telah disaksikan oleh anak dalam kehadiran anak itu. Pada umumnya anak kecil menganggap orang yang terdekat dan dicintainya, yakni orangtua, sebagai contoh yang paling hebat dan teladan yang patut dicontoh dan anak kecil selalu ingin meniru segala tingkah laku dan perbuatan orangtua, demikianpun ucapan-ucapannya.

Demikian pula anak yang belum dapat membedakan antara penambahan bumbu untuk menghidangkan cerita yang lebih ”sedap” dengan cerita bohong, pasti akan meniru cara-cara tersebut.

Tambahan lagi, secara tidak sengaja orangtua mengajar anak membohong dengan memberikan pernyataan-pernyataan yang tidak benar dan jelas tidak cocok dengan keadaan sebenarnya.

Orangtua maupun orang dewasa lainnya tidak menyadari kekeliruannya dengan cara-cara pemberian “bumbu”, berbohong demi sopan santun atau menyuruh berbohong. Sedangkan anak yang keinginan menirunya besar sekali akan meniru orangtuanya berbohong. Akhirnya anak gagal dalam membentuk penilaian yang tepat terhadap apa yang benar dan mana yang palsu atau dusta.

Untuk menghindari kekeliruan ini sebaiknya orangtua memperhatikan ucapan-ucapan sendiri, supaya anak tidak keliru dalam menarik kesimpulan yang tidak sesuai dengan kenyataan. Lebih baik menolak permintaan anak dengan alasan yang tepat daripada memberikan alasan yang jelas yang bertentangan dengan kenyataan yang dihadapi anak. Demikian pula dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan anak, sebaiknya dijawab sesuai dengan kenyataan dan disajikan sesuai dengan kemampuan berfikir dan daya tangkap si anak.

Dalam hal membual, yang dilakukan si anak bukan saja karena meniru orang lain akan tetapi karena memang merupakan salah satu sifat anak untuk membesarkan segala hal, sebaiknya pernyataan-pernyataan anak jangan dianggap sunguh-sungguh dan setiap kali ditunjukkan ukuran yang sebenarnya.

Sebaiknya orangtua dalam ucapan-ucapannya lebih berhati-hati dalam kehadiran anak-anak. Bagi anak sangat sukar untuk membedakan ucapan-ucapan “basa-basi”, dimana orang dewasa tidak dapat mengatakan yang sebenarnya dan menutupi kenyataan supaya tidak menyakiti hati orang lain. Demikian juga dalam memberikan alasan-alasan yang dicari-cari dalam mengemukakan pernyataan yang tidak benar. Anak akan mengikuti cara-cara tersebut hal mana yang akan dipertimbangkannya untuk mengelakkan diri dari tugas-tugas dan tanggung jawab dan mengalihkan tanggung jawab kepada orang lain.