Renungan Harian 360 (Sabtu, 24 Agustus 2019)

Pengutusan Dari Antiokhia

Devotion from Kisah Rasul 13:1-12

Antiokhia adalah sebuah kota di daerah Siria bagian utara. Kota ini menjadi basis baru bagi para pengikut Yesus Kristus. Di tempat inilah orang-orang percaya yang bukan keturunan orang Yahudi bertumbuh dengan pesat. Kisah Rasul 11:20 mengatakan bahwa orang-orang Yunani mendengar berita Injil Kristus dan percaya kepada-Nya di tempat ini. Tuhan memindahkan daerah tempat Roh Kudus menyatakan karya-Nya dengan limpah semakin menjauhi Yerusalem. Sekarang Antiokhialah tempat jemaat Tuhan bertumbuh menjadi besar dan kuat. Selain itu di tempat ini jugalah orang-orang percaya mulai disebut Kristen. Suatu sebutan baru untuk murid-murid Kristus. Sebelumnya mereka adalah orang-orang Yahudi, umat Allah, yang percaya kepada Sang Mesias bernama Yesus. Sekarang pengikut Yesus tidak lagi hanya didominasi oleh orang-orang Yahudi. Di Antiokhia banyak orang Yunani yang juga telah menjadi percaya. Oleh karena itu, sebutan Kristen dimulai di Antiokhia ini, menandakan bahwa umat Tuhan sekarang terdiri dari berbagai bangsa. Pekerjaan Roh Kudus semakin menyatakan anugerah Tuhan bagi bangsa-bangsa lain juga.

Kisah Rasul 13:1 menunjukkan bahwa di Antiokhia ada banyak orang terpandang: orang-orang terdidik dan juga hamba-hamba Tuhan yang berkuasa. Tuhan demikian memberkati keadaan di Antiokhia. Tetapi walaupun banyak orang-orang penting, jemaat ini tetap dengan rendah hati memohon pimpinan Tuhan langkah demi langkah. Ayat 2 menyatakan suatu kejutan yang sangat besar. Untuk pertama kalinya Roh Kudus menyatakan panggilan untuk memberitakan Injil kepada bangsa-bangsa lain. Inilah pengutusan yang pertama kali dilakukan di dalam sebuah jemaat. Sebelumnya tidak pernah dicatat adanya pengutusan untuk memberitakan Injil ke daerah-daerah bangsa-bangsa lain dilakukan oleh jemaat di tempat mana pun. Tuhan semakin menggerakkan hamba-hamba-Nya, mendesak mereka untuk membawa berita Injil ke ujung bumi. Maka Tuhan sendiri yang menguduskan Barnabas dan Saulus untuk diutus memberitakan Injil Tuhan.

Bagian selanjutnya makin menguatkan fakta bahwa Roh Kudus sedang membawa pengenalan akan Kristus kepada lebih banyak bangsa. Barnabas dan Saulus diutus untuk berkeliling dimulai dari Siprus. Di sini mereka terus berjalan melintasi pulau Siprus dan memberitakan Injil di rumah-rumah ibadah orang Yahudi. Tetapi ini bukanlah tujuan pengutusan mereka. Tuhan akan membukakan jalan kepada bangsa-bangsa lain melalui penolakan orang Yahudi. Ayat-ayat selanjutnya menunjukkan hal ini. Yang pertama dapat kita lihat di dalam ayat 7 dan 8. Ada seorang Gubernur Romawi bernama Sergius Paulus, dan ada seorang Yahudi bernama Baryesus atau Elimas. Sergius Paulus ini ingin mendengar firman Allah, tetapi Elimas, seorang tukang sihir, mencegah firman tiba kepada gubernur itu. Orang Yahudi menjadi penyihir dan mencegah firman Allah diberitakan, sedangkan orang kafir bertobat setelah mendengar berita Injil (ay. 12). Tanda yang semakin jelas bahwa sekarang bangsa-bangsa lain akan dipanggil oleh Roh Kudus menjadi bagian dari janji Tuhan kepada Abraham, Ishak, dan Yakub. Tanda lain yang menunjukkan peralihan karya Roh Kudus kepada bangsa-bangsa lain adalah Saulus yang sekarang mendapatkan tempat sebagai salah satu rasul utama. Jika sebelumnya dia disebut “Saulus”, dan ditulis sebagai rekan Barnabas – “Barnabas dan Saulus”, maka mulai ayat 9 dia mulai disebut dengan nama Romawinya, yaitu “Paulus”, dan mulai diberi keutamaan ketika dicatat – “Paulus dan Barnabas”.

Untuk direnungkan:
Marilah kita renungkan dua hal ini dari bacaan hari ini.

  1. Hal pertama adalah inilah saat di mana anugerah Tuhan yang limpah bagi Israel dianggap hina oleh umat Tuhan sendiri. Ini jugalah saat anugerah bagi bangsa-bangsa lain yang memperoleh Injil Kristus dan mereka menerimanya dengan penuh ucapan syukur. Umat yang seharusnya melihat menjadi buta (ay. 11) dan bangsa-bangsa lain yang seharusnya buta akhirnya melihat (ay. 12). Ini menjadi perenungan bagi kita semua. Injil Tuhan tiba kepada bangsa-bangsa lain, tetapi tidak kepada Israel. Injil Tuhan akan menyebar dan diterima oleh bangsa-bangsa, tetapi Israel akan disingkirkan karena terus menerus menolak. Biarlah kita tidak jatuh ke dalam kekerasan hati yang sama (Ibr. 3:19). Hal yang mencegah kita masuk ke dalam penolakan ini adalah menyadari kemurahan Tuhan. Menyadari bahwa kita bukanlah sekelompok orang yang istimewa dan tidak tergoyahkan sebagai umat Tuhan. Memang benar bahwa di dalam anugerah Tuhan tidak seorang pun akan hilang, tetapi kita harus menyadari hal ini sebagai anugerah yang tidak layak kita terima. Kita menjadi anak-anak Allah dan aman berada di dalam anugerah-Nya ini karena penebusan Tuhan Yesus Kristus, tetapi kita tidak boleh sekali pun menganggap bahwa ada bagian dari diri kita yang membuat kita layak diberi anugerah ini. Kesombongan adalah dosa rohani yang sangat bahaya sehingga membutakan mata orang Yahudi. Mereka tidak sadar kalau mereka sedang menolak Tuhan dan sedang dibuang oleh Tuhan sebagai akibatnya. Tetapi mereka lupa bahwa mereka menjadi berarti karena Tuhan, dan bukan sebaliknya. Tuhan menunjukkan bahwa Dia sanggup membuat berarti bangsa-bangsa lain yang dianggap tidak berarti oleh Israel.
  2. Bagian ini juga memberikan pengajaran yang begitu indah mengenai rencana Tuhan memberikan anugerah bagi seluruh dunia. Dimulai dari orang-orang Yahudi, tetapi tidak berhenti hanya pada mereka saja. Inilah saat di mana murka Tuhan dan penolakan Tuhan atas bangsa-bangsa di bumi berakhir. Tuhan memang memberikan berbagai-bagai kebaikan atas bangsa-bangsa di bumi, tetapi Dia tidak menyatakan firman-Nya dan anugerah keselamatan-Nya atas mereka. Dia tidak memanggil dan menebus mereka menjadi anak-anak-Nya. Hanya Israel umat-Nya yang memperoleh anugerah sebesar itu. Tetapi ketika Israel menganggap biasa anugerah ini, menjadi sombong, dan menolak Mesias mereka, Tuhan pun memalingkan wajah-Nya atas mereka dan memanggil bangsa-bangsa lain untuk menjadi anak-anak yang ditebus-Nya. Tuhan tidak harus memberikan kemurahan-Nya bagi semua bangsa-bangsa yang telah mengambil jalannya masing-masing, mengabaikan Tuhan, dan menyembah ilah-ilah palsu. Tuhan tidak berkewajiban memanggil kembali manusia yang telah menghina Dia dan menolak Dia. Tuhan tidak harus mengampuni segala perbuatan orang-orang yang meskipun adalah ciptaan, tetapi telah bertindak seolah-olah mereka adalah Tuhan sendiri. Tetapi jika Tuhan tidak membuka jalan pertobatan bagi bangsa-bangsa lain, maka kita pun tidak akan pernah melihat kebenaran itu. Puji Tuhan untuk anugerah-Nya bagi bangsa-bangsa lain. Dia mau memanggil kembali bangsa-bangsa lain di luar umat-Nya Israel, dan hanya karena rencana kemurahan-Nya inilah, kita dapat mengenal Dia dan diselamatkan oleh darah Kristus. Tuhan mengingat bangsa-bangsa lain juga. Tuhan memelihara mereka dan menentukan bahwa pada waktu yang telah Dia tetapkan, bangsa-bangsa lain akan dipanggil juga oleh-Nya menjadi satu umat dengan orang-orang percaya dari Israel. Allah telah menyatakan rencana-Nya yang agung. Melalui kekerasan hati orang Yahudi akhirnya Injil sampai kepada kita. Berkat yang limpah ini telah menjadikan kita satu umat di bawah pimpinan satu Gembala Agung. Kristus telah menumpahkan darah-Nya dan memberikan nyawa-Nya untuk domba-domba dari seluruh bangsa sebab Allah Bapa-Nya telah menentukan bahwa Dia harus memerintah atas seluruh bangsa. Terlalu kecil jika Dia menjadi raja hanya atas umat Israel saja (Yes. 49:6). Kapankah rancangan Allah bagi bangsa-bangsa lain ini dimulai? Ketika Paulus dipanggil dan diutus oleh-Nya menjadi misionaris pertama yang dikirimkan oleh gereja Tuhan. Satu per satu bangsa yang telah dipilih oleh Tuhan didatangi oleh Paulus. Satu per satu gereja-Nya bertumbuh di tanah-tanah orang-orang kafir. Satu per satu orang-orang kudus-Nya dipanggil dari tempat-tempat yang belum pernah mendengar nama Allah Yang Kudus. Terpujilah nama Tuhan yang rela mengampuni dunia ini dan menarik pulang umat-Nya yang tersesat dari antara bangsa-bangsa lain. (JP)