Renungan Harian 352 (Jumat, 16 Agustus 2019)

Eneas Dan Tabita

Devotion from Kisah Rasul 9:32-43

Ayat 32 mengatakan bahwa Petrus melakukan perjalanan keliling. Meskipun tetap kembali ke Yerusalem sebagai rasul yang memberitakan Injil kepada orang Yahudi, Petrus juga dipimpin oleh Roh Kudus untuk mengadakan tanda-tanda mukjizat dan memberitakan Injil ke luar Yerusalem. Bahkan di dalam bagian selanjutnya dari Kitab Kisah Rasul, tidak ada lagi kesempatan terjadinya tanda-tanda mukjizat dan berita Injil yang menghasilkan pertobatan di Yerusalem. Petrus berjalan menjauhi Yerusalem, dan di dalam pasal 10 nanti dia akan Tuhan tuntun ke Kaisarea untuk menyaksikan Roh Kudus mempertobatkan Kornelius, seorang Romawi, menjadi murid Yesus Kristus.

Tempat pertama yang dikisahkan oleh Lukas dalam Kitab ini adalah Lida. Ini merupakan tempat yang dalam bahasa Ibrani disebut Lod, tempat yang sempat menjadi salah satu pusat perdagangan orang-orang Yahudi. Petrus mengunjungi murid-murid Kristus di sana dan menyembuhkan seorang bernama Eneas. Ayat 33 mengatakan bahwa Eneas telah 8 tahun terkena penyakit lumpuh. Orang lumpuh beberapa kali dijadikan contoh untuk kemenangan belas kasihan Tuhan bagi umat-Nya. Baik dalam Yesaya 33:23, Yesaya 35:6, ataupun Yeremia 31:8 orang lumpuh akan mendapatkan kekuatan dari Tuhan sebagai tanda pengampunan yang diberikan untuk memulihkan umat-Nya. Ayat-ayat dalam Yesaya dan Yeremia tadi juga menyatakan kasih sayang Tuhan bagi Israel di mata bangsa-bangsa asing yang menindas dan menertawakan kehancuran mereka. Tuhan akan menguatkan orang lumpuh sehingga kekuatan kaki mereka bahkan akan menjadi lebih besar daripada kekuatan kaki tentara-tentara bangsa-bangsa yang memusuhi Israel. Ini menandakan kekuatan Allah bagi yang paling lemah dari umat-Nya adalah jauh lebih kuat daripada yang paling perkasa dari bangsa-bangsa lain. Dengan demikian kesembuhan bagi orang lumpuh adalah tanda pekerjaan Allah memulihkan umat-Nya, dan pernyataan kuasa Allah bagi yang terlemah untuk mempermalukan mereka yang kuat.

Tetapi kekuatan dan pengampunan ini hanya mungkin datang melalui Sang Mesias yang Tuhan telah janjikan. Sang Mesias adalah satu-satunya yang mungkin membawa perubahan dan pembaruan bagi Israel. Sang Anak Daudlah harapan satu-satunya untuk adanya kerajaan damai sesuai dengan janji Allah. Itulah sebabnya di dalam ayat 34 Paulus menekankan fakta bahwa Tuhan Yesuslah yang memberikan kesembuhan bagi Eneas. Bagian ini mau menyatakan bahwa setelah bertahun-tahun dia berada di dalam keadaan lumpuh dan tak berdaya, akhirnya ada yang sanggup memberikan kesembuhan secara mukjizat kepada dia. Ini paralel dengan Israel yang setelah berpuluh-puluh tahun lumpuh karena dibuang di Babel, akhirnya menerima janji Tuhan bahwa dia akan dipulihkan dan dikuatkan lagi. Siapakah yang memulihkan Israel? Sang Anak Daud. Maka selama hidup-Nya di bumi, Kristus menyatakan diri-Nya sebagai Sang Mesias dengan menyembuhkan orang lumpuh, menyatakan tanda bahwa Dialah yang akan memulihkan Israel. Peristiwa itu membuat banyak orang berbalik kepada Tuhan. Petrus dengan otoritas begitu besar dan kuasa yang sangat kuat memberikan fokus kepada Tuhan Yesus. Perkataannya, “Yesus Kristus menyembuhkan engkau…” menjadi kunci kuasa pelayanan Petrus. Dia tidak ingin mengambil kemuliaan apa pun. Dia hanya ingin menyatakan kemuliaan Yesus Kristus.

Banyaknya orang yang berbalik kepada Tuhan membuat Petrus harus tinggal beberapa lama di Lida untuk membimbing mereka. Tetapi ternyata selagi Petrus tinggal di Lida, ada seorang murid Tuhan bernama Tabita (Dorkas), yang pelayanannya sangat memberkati banyak orang, meninggal di Yope. Ayat 36 mengatakan bahwa dia sangat banyak menolong orang lain yang memerlukan. Dia memerhatikan orang miskin dan menolong mereka yang kekurangan. Karena kasih dan kebaikan Dorkas, banyak orang yang merasa sangat kehilangan ketika dia meninggal. Di tengah-tengah dukacita yang amat dalam, mereka memohon supaya Petrus datang ke Yope, karena Lida, tempat Petrus sekarang sedang melayani, dekat dengan Yope. Yope merupakan kota dengan budaya Yunani yang sangat kental. Perginya Petrus ke Yope juga makin menyatakan gerakan menjauh dari pekerjaan Roh Kudus dalam menyatakan Kristus. Gerakan yang akan makin nyata di dalam pertobatan Kornelius, dan akhirnya mencapai puncaknya dengan pengutusan Paulus ke bangsa-bangsa lain. Tetapi, selain karena berita Injil yang semakin dijauhkan dari Yerusalem, Roh Kudus juga memimpin Petrus ke Yope karena dorongan belas kasihan. Allah kita merancangkan segala sesuatu dengan melibatkan belas kasihan-Nya. Allah membebaskan Israel dari Mesir karena itu rancangan-Nya sejak semula (Kej. 15:13-14), tetapi Dia juga membebaskan Israel karena dorongan belas kasihan-Nya (Kel. 3:7-8). Demikian juga mukjizat di Yope ini. Selain menyatakan rencana Allah yang menjauhkan berkat Injil dari Yerusalem, mukjizat ini juga menunjukkan belas kasihan Tuhan kepada mereka yang sedang berduka. Tuhan tidak selalu menyatakan belas kasihan-Nya dengan cara yang sama. Dia dapat saja menyatakan belas kasihan-Nya dengan mukjizat, tetapi Dia juga dapat menyatakan belas kasihan-Nya dengan cara yang sama sekali berbeda. Tetapi yang mana pun yang Dia nyatakan, fakta bahwa Dia berbelaskasihan kepada umat-Nya tidak bisa dibantah. Dia selalu berbelaskasihan kepada umat-Nya di dalam segala penderitaan yang umat-Nya alami. Dia selalu berbelaskasihan kepada kita, walaupun Dia tidak menyatakan mukjizat-Nya.

Ketika Petrus tiba di rumah Tabita, orang-orang yang mengasihinya tengah berkumpul dan meratapi kematiannya. Petrus segera mendoakan Tabita setelah dia menyuruh semua orang meninggalkan ruangan tempat Tabita dibaringkan. Dengan kalimat yang penuh kuasa Petrus membangkitkan Tabita. Kalimat yang penuh kuasa karena mewakili Tuhan Yesus, seperti di dalam ayat 34. Kuasa kebangkitan Kristus sekarang dinyatakan dengan sangat besar oleh seorang rasul Kristus. Petrus bukan hanya menunjukkan mukjizat-mukjizat dan pernyataan-pernyataan kuasa Allah di dalam menyembuhkan orang atau mengusir roh jahat. Dia menyatakan mukjizat di dalam kebangkitan orang mati. Ini, walaupun bukanlah kebangkitan final yang menaklukkan maut dengan sempurna (1Kor. 15:52-55), merupakan pernyataan kuasa yang dipercayakan oleh Kristus kepada rasul-rasul-Nya. Mereka memiliki kuasa Kristus yang demikian besar karena mereka adalah rasul-Nya. Mereka mewakili Dia di dalam meneruskan pekerjaan yang Dia kerjakan ketika Dia berada di bumi. Itu sebabnya Petrus juga mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan Kristus (Yoh. 14:12). Otoritas, pengaruh, dan kuasa yang sedemikian besar dipercayakan oleh Kristus, dan bahkan daerah untuk dipengaruhi oleh mereka dipercayakan oleh Kristus dengan luas yang jauh lebih besar daripada yang Dia sendiri jangkau ketika Dia masih di dunia ini.

Untuk direnungkan:
Sungguh agung cara Allah menyatakan Injil-Nya. Belas kasihan, kuasa, berita Injil, dan penyertaan-Nya selalu hadir di dalam pimpinan Roh Kudus memanggil orang-orang kepada Kristus. Yerusalem diizinkan mengalami hal-hal ini, tetapi penolakan mereka, baik pemimpin-pemimpin agama di sana maupun orang banyak, membuat Tuhan mengalihkan anugerah-Nya ke daerah lain menjauhi Yerusalem. Alangkah besar kemalangan Yerusalem. Jika hal-hal besar itu sekarang Tuhan pindahkan ke bangsa-bangsa lain, maka tidak ada lagi harapan yang sejati bagi Yerusalem. Yerusalem telah menjadi reruntuhan spiritual yang segera akan menjadi kota mati. Tetapi di saat yang bersamaan pekerjaan-pekerjaan yang demikian besar ini tetap Tuhan kerjakan bagi orang-orang lain di luar Israel. Mari berdoa supaya kita saat ini dapat hidup dengan menikmati penyertaan Tuhan, berita Firman yang sejati, kuasa dan kebenaran Tuhan, bahkan tanda-tanda penyertaan-Nya. Saya tidak mengatakan bahwa kita harus mengukur ini dengan melihat berapa banyak orang lumpuh yang telah disembuhkan, atau berapa banyak orang mati yang telah dibangkitkan, sebab itu merupakan tanda yang Tuhan sendiri pilih untuk kerjakan atau tidak, di dalam keputusan-Nya yang penuh bijaksana. Tetapi saya berharap kita semua belajar mengukur penyertaan Tuhan melalui keadaan kita masing-masing. Apakah kita telah menerima Injil Tuhan dengan penuh sukacita? Apakah kita merindukan kehadiran Tuhan memimpin jalan hidup kita? Apakah kita hanya mengandalkan belas kasihan Tuhan untuk melihat dan mengangkat kita dari hidup kita yang penuh kehancuran? Dan yang hari ini sangat ditekankan di dalam bacaan kita, apakah kita merasakan berkat yang sangat besar dengan keputusan Tuhan menyatakan Injil-Nya kepada kita? Jika kita tidak meresponi berkat Injil-Nya ini dengan takut akan Tuhan dan menikmati kehadiran firman-Nya, kerelaan-Nya memanggil kita dan memimpin kita, maka tanpa kita sadari keadaan kita akan sama seperti penduduk Yerusalem, yang pada zaman para rasul menikmati tembok kota yang kokoh dan bangunan Bait Suci megah, tetapi tanpa kehadiran Allah.

Doa:
Tuhan, tolong kami untuk melihat betapa besar anugerah-Mu yang menyatakan penyertaan-Mu dan rancangan keselamatan-Mu kepada kami. Tolong kami untuk tidak menyia-nyiakan semua itu. Tolong kami untuk tidak hidup dengan angkuh dan menolak firman-Mu yang kami anggap bodoh di dalam pikiran kami yang bodoh ini. Tolong kami menghargai berita Injil-Mu dan hidup menyatakan penghargaan itu dengan takut akan Tuhan dan menikmati penyertaan Tuhan. (JP)