Renungan Harian 355 (Senin, 19 Agustus 2019)

Roh Kudus Turun Atas Kornelius

Devotion from Kisah Rasul 10:30-48

Setelah membahas tentang penglihatan Kornelius dan penglihatan Petrus, bagian ini memberitakan satu tahap baru di dalam pengabaran Injil. Sekarang seorang non Yahudi mendapatkan berkat yang sama dengan para murid di Yerusalem. Tuhan menyatakan melalui Petrus bahwa Dia tidak membedakan bangsa-bangsa (ay. 34). Meskipun awalnya Dia memberikan keutamaan kepada Israel terlebih dahulu, tetapi sekarang telah tiba saatnya bangsa-bangsa lain mendapatkan berkat yang sama. Ayat 24 mengatakan bahwa Kornelius telah memanggil saudara-saudaranya berkumpul untuk mendengarkan Petrus. Tuhan berencana memanggil seluruh keluarga Kornelius karena kesalehan Kornelius. Dengan pengertian bahwa Tuhan berbelas kasihan kepada keluarga Kornelius, Petrus pun mulai memberitakan Injil kepada mereka.

Hal pertama yang Petrus bahas adalah bahwa seluruh bangsa tidak dibedakan oleh Tuhan, asalkan memiliki hati yang takut akan Tuhan. Manakah yang lebih baik? Menjadi umat Tuhan secara status, tetapi mengabaikan Tuhan di dalam kenyataan? Atau menjadi orang kafir di dalam status, tetapi memiliki hati yang takut akan Tuhan di dalam kenyataan? Kornelius bukan umat Tuhan secara status. Tetapi dia lebih rendah hati dan cinta Tuhan dibandingkan dengan orang-orang Yahudi. Secara status dia seorang kafir, tetapi secara fakta dia lebih siap untuk melayani Tuhan dibandingkan dengan banyak orang-orang Yahudi lain. Kornelius lebih siap untuk melayani Tuhan karena memiliki kerendahan hati dan ketekunan untuk mencari Tuhan. Tetapi apakah itu semua cukup? Kerinduan untuk mencari Tuhan tidak akan ada gunanya kalau seseorang tidak memiliki pengenalan akan Kristus. Bahkan kesalehan hidup juga tidak ada gunanya tanpa mengenal Kristus. Itulah sebabnya Tuhan menyuruh Kornelius memanggil Petrus, sebab tanpa kedatangan seorang pemberita Injil untuk mengabarkan Injil, tidak mungkin Kornelius dapat mendengar tentang Injil. Dan tanpa mengenal berita Injil, tidak mungkin terjadi pertobatan bagi Kornelius. Tanda bahwa Allah berkenan kepada seseorang adalah Allah menyatakan Anak-Nya, yaitu Kristus kepada orang itu.

Kemudian setelah itu Petrus membahas tentang siapakah Kristus. Petrus menyatakan bahwa Dia adalah Tuhan dari semua orang (ay. 36). Seluruh bangsa, bukan hanya Israel, harus tunduk kepada Tuhan Yesus. Allah menyatakan Anak-Nya supaya semua orang yang mengenal Sang Anak tunduk kepada Dia. Tuhan Yesus adalah Tuhan bagi semua orang. Dia bukan hanya pembawa damai sejahtera bagi dunia ini, tetapi juga adalah Tuhan bagi dunia ini. Damai sejahtera sejati hanya dapat diperoleh oleh bangsa-bangsa di dunia jika mereka rela tunduk kepada Tuhan Yesus. Tidak ada damai sejahtera bagi bangsa-bangsa yang menolak sujud di kaki Sang Anak – Mazmur 2:10-12 di ayat 11 (ayat 12 di dalam beberapa versi terjemahan lain) seharusnya diterjemahkan “ciumlah kaki Sang Anak” – sehingga hanya dengan memberi tempat kepada Yesus sebagai Tuhan sajalah baru Dia menjadi Juruselamat yang membawa damai bagi semua orang.

Hal berikut yang dikatakan Petrus adalah bahwa Kristus penuh dengan kuasa Allah dan pengurapan Roh Kudus. Tanda pengurapan Roh Kudus yang dimiliki Kristus adalah banyaknya perbuatan baik yang dilakukan-Nya bagi banyak orang serta takluknya Iblis kepada Dia. Tuhan membawa damai sejahtera di dalam kuat kuasa Roh Kudus. Petrus mengklaim sebagai saksi dari semua perbuatan penuh kuasa yang telah dikerjakan oleh Kristus. Tidak ada setan ataupun penyakit yang dapat bertahan ketika Kristus menyatakan kuasa-Nya.

Namun, walaupun Kristus adalah Tuhan dan pembawa kuasa Allah bagi Israel, ternyata Dia dibunuh oleh orang-orang Yahudi. Ini menjadi inti berita Injil yang Petrus nyatakan. Dia tidak hanya mengabarkan bahwa Kristus mati. Dia mengabarkan terlebih dahulu siapa Kristus dan apa yang Dia kerjakan ketika Dia hidup sehingga kematian-Nya tidak menjadi berita umum yang biasa. Tidak ada yang biasa dengan kematian Kristus. Kematian Kristus adalah satu-satunya kematian yang memiliki dampak begitu besar. Kematian Kristus menyatakan kebobrokan umat Tuhan telah mencapai puncaknya. Kematian Kristus menyatakan pemberontakan dosa dan kejahatan manusia kepada Allah adalah hal yang sangat besar. Kematian Kristus menyatakan ketidakadilan manusia telah mencapai puncaknya.

Jika berita tentang siapa Kristus dan apa yang Dia kerjakan harus dinyatakan untuk membuat orang tahu betapa besar kerusakan manusia di dalam kematian Kristus, maka berita kematian-Nya menjadi dasar untuk membuat orang tahu betapa besar kuasa kebangkitan-Nya. Dengan begitu jelas dan berkuasa Petrus menyampaikan kebangkitan Kristus dan bagaimana dia dan para rasul yang lain adalah saksi bahwa Kristus telah bangkit. Mereka bukan hanya menyaksikan Dia bangkit, tetapi mereka melanjutkan persekutuan mereka dengan Dia setelah Dia bangkit. Kebangkitan Kristus juga menjadi berita yang sangat berkuasa karena Dia, yaitu Yesus, yang telah mengalami ketidakadilan, pengkhianatan, fitnah, kekejian, kejahatan, dan kematian; tetapi mengalahkan semua itu, sekarang layak duduk sebagai hakim atas seluruh manusia, baik yang hidup maupun yang mati (ay. 42). Petrus juga mengingatkan kepada Kornelius bahwa berita ini bukan karangan para murid, tetapi telah dinubuatkan oleh para nabi sejak ratusan tahun sebelumnya. Kristuslah inti berita yang disampaikan para nabi mengenai pengampunan dosa dan pertobatan. Tidak ada satu pun manusia di bumi ini yang seperti Kristus, yang dengan kuasa sedemikian besar rela mengalami kematian demi penebusan dosa manusia.

Mendengar berita yang terpapar dengan jelas mengenai siapakah Kristus, Kornelius dan orang-orang yang ada di rumahnya percaya kepada Kristus. Roh Kudus turun atas Kornelius dan menyatakannya dengan tanda-tanda nubuat dalam bahasa lidah. Ini menjadi tanda ketiga dari pekerjaan Roh Kudus di dalam Kisah Rasul. Bukan hanya Yerusalem, dan bukan hanya orang-orang Samaria, tetapi sekarang orang-orang Romawi pun menerima karunia Roh Kudus karena iman mereka kepada Tuhan Yesus. Roh Kudus tidak selalu memberikan tanda-tanda seperti yang Dia berikan kepada Kornelius, yaitu bahasa lidah, tetapi dampak dari pekerjaan Roh Kudus akan selalu menyertai setiap orang yang sungguh-sungguh percaya kepada Kristus dan mengasihi Allah, yaitu kerinduan yang besar untuk memuliakan Allah. Inilah hal yang seharusnya ada pada setiap orang yang penuh dengan Roh Kudus. Di dalam Efesus 5:18 dikatakan bahwa semua orang yang percaya kepada Kristus memiliki Roh Kudus. Tetapi setelah itu semua orang harus memberikan diri dipimpin oleh Roh Kudus sehingga setiap pengertian firman Tuhan menggugah hati, membawa kepada kekaguman akan Kristus, dan mendorong dia untuk memuliakan Tuhan dengan perbuatan, puji-pujian, maupun pemberitaan Injil. Kornelius penuh dengan Roh Kudus setelah mendengar tentang kuasa Kristus, kematian-Nya dan kebangkitan-Nya. Setiap pemaparan firman Tuhan seharusnya menggugah kita untuk mempunyai jiwa yang menyala-nyala untuk Tuhan. Tanda kepenuhan Roh Kudus bukanlah bahasa-bahasa aneh, tetapi kerinduan yang sangat besar untuk memuliakan Allah dan menikmati mengagumi kebesaran dan keagungan Kristus melalui pengertian akan firman Tuhan.

Kornelius menjadi orang pertama yang berbagian di dalam berkat Roh Kudus. Dia menjadi orang Romawi pertama yang percaya kepada Kristus dan menjadi umat Kristus. Tetapi Dia bukanlah yang terakhir. Pertobatan Kornelius menjadi titik awal pekerjaan Tuhan memanggil bangsa-bangsa lain dalam jumlah yang sangat besar dan dalam jangkauan yang mencapai ujung bumi. Yerusalem ditinggalkan, dan bangsa-bangsa lain mulai dipanggil oleh Allah. (JP)