Renungan Harian 472 (Sabtu, 14 Desember 2019)

Kelahiran Anak Allah

Devotion from Lukas 1:32-38; Yesaya 7:1-16

Yesaya 7 menceritakan peristiwa pengepungan Yerusalem oleh dua kerajaan, yaitu Israel Utara dan Aram. Peperangan ini membuat raja Yehuda, yaitu Ahas, begitu gentar. Tetapi Tuhan tetap beranugerah bagi Ahas dan seluruh Yehuda. Dia menjanjikan bahwa dua raja yang mengepung Yehuda hanyalah puntung kayu api yang sudah akan padam (ay. 4). Tuhan akan memberikan kemenangan dengan menghancurkan mereka yang mau menyerang Yehuda. Tetapi di dalam ayat 11 Tuhan memerintahkan Ahas untuk meminta tanda. Tanda apakah ini? Mengapa peristiwa penyerangan Israel Utara dan Aram atas Yehuda harus dinyatakan dengan tanda dari dunia orang mati yang paling bawah dan tempat tertinggi di atas? Tuhan sedang memberikan nubuat yang jauh melampaui peristiwa penyerangan Aram atas Yehuda. Itulah sebabnya ketika Ahas tidak mau meminta tanda, padahal Tuhan sudah memerintahkan kepada dia, Yesaya segera menyatakan sendiri tanda yang akan Tuhan berikan. Dikatakan bahwa seorang perempuan muda (perempuan yang masih perawan) akan mengandung. Ini dianggap sebagai tanda ajaib yang tidak mungkin terjadi kecuali Tuhan sendiri yang melakukannya. Tanda ajaib ini bukan untuk Raja Ahas, juga bukan untuk memberikan ketenangan kepada dia. Tanda ajaib ini adalah tanda yang baru menjadi genap di dalam Yesus Kristus. Tanda yang menyatakan bahwa meskipun Kerajaan Israel dan Yehuda telah hancur karena pemberontakan mereka sendiri, Tuhan tetap menyatakan anugerah-Nya mempertahankan kerajaan itu demi kedatangan Sang Anak yang akan lahir dari seorang perempuan muda yang masih perawan. Tuhan sengaja memilih penyerangan Israel utara dan Aram atas Raja Ahas di Yehuda untuk menunjukkan bahwa Yehuda dipelihara oleh Tuhan hanya untuk satu tujuan, yaitu kedatangan Kristus. Yehuda dipelihara bukan karena anak-anak Daud yang terus menerus melelahkan Allah (Yes. 7:13). Raja Ahas sendiri sebenarnya adalah raja yang sangat jahat (2Raj. 16:1-4). Tetapi Tuhan mau menyatakan bahwa bukan karena Ahas, juga bukan karena anak-anak Daud, tetapi karena Sang Anak Daud, yang juga adalah Anak Allah, karena Dialah Allah memelihara takhta Daud.

Tanda inilah yang digenapi di dalam diri Maria. Memang di dalam Yesaya dikatakan “perempuan muda”. Tetapi jika seorang perempuan muda melahirkan anak, bisakah ini dikatakan sebagai tanda ajaib? Tentu tidak. Jika tanda yang diminta bukan dari dunia ini (harus dari dunia orang mati atau setinggi langit tertinggi) apakah mungkin tanda itu hanyalah seorang perempuan muda melahirkan anak? Tidak. Tetapi jika perempuan muda itu dimaksudkan perempuan yang masih perawan, maka ini adalah tanda ajaib yang tidak terdapat di dunia ini. Pasti ini adalah pekerjaan dari Allah di sorga yang tertinggi. Itulah sebabnya malaikat menjawab pertanyaan Maria di dalam Lukas 1:34 dengan mengatakan bahwa Maria dapat mengandung meskipun dia belum bersuami karena pekerjaan Roh Kudus. Allah memberikan anak kepada perempuan tua yang mandul (Luk. 1:36) dan kepada perempuan muda yang masih perawan. Inilah pekerjaan Tuhan di dalam menyatakan peristiwa kelahiran Anak-Nya ke dalam dunia.

Lukas memberikan pendahuluan mengenai kelahiran Kristus dengan mengingatkan kita semua betapa agung dan ajaibnya peristiwa kelahiran Kristus. Kristus menggenapi janji berusia lebih dari 900 tahun yang telah Tuhan nyatakan kepada Daud. Janji yang begitu agung dan mulia, yang telah dinyatakan kepada para raja-raja Israel dan Yehuda melalui para nabi yang agung ini sekarang dinyatakan kepada seorang perempuan muda yang sederhana dari kota kecil di Betlehem. Tuhan menyatakan ini bukan untuk membuat Maria membesarkan dirinya. Tuhan menyatakan ini untuk membuat dia sadar betapa kecil dan tidak berarti dirinya, dan betapa besar dan agung anugerah Tuhan bagi dirinya yang kecil dan tidak berarti itu. Ketika tanda ajaib ini, yang melampaui tanda-tanda di langit dan di dunia orang mati, melampaui keagungan sejarah raja-raja agung Israel dan Yehuda, dinyatakan kepada Maria, dia berespons dengan kesadaran bahwa dirinya hanyalah hamba yang tidak layak.

Untuk direnungkan:
Mari kita ingat karya Tuhan yang agung di dalam sejarah. Betapa besar dan agungnya pekerjaan yang Dia lakukan dan tanda-tanda ajaib yang dinyatakan. Semua ini membuat kita sadar bahwa kita terlalu kecil dan tidak berarti. Tidak ada satu orang pun yang sungguh-sungguh mengenal Tuhan berani menganggap dirinya penting dan berarti. Tuhan begitu besar dan mulia. Kita begitu kecil dan hina. Alam ciptaan, peristiwa-peristiwa di dalam sejarah, dan tanda-tanda ajaib yang Tuhan kerjakan, semua makin membuat kita tidak berani menganggap diri kita sebagai pusat yang penting dan harus diutamakan. Jika kita menyangka bahwa kita sudah makin mengenal Tuhan, tetapi kesadaran akan betapa kecil dan tidak berartinya diri ini belum ada pada kita, maka sebenarnya kita belum mengenal Dia. Tidak ada pengenalan akan Tuhan yang bersamaan dengan menganggap diri penting dan berarti. Ini ironi di dalam iman Kristen. Makin merasa diri berarti membuat kita lupa keadaan kita yang tidak berarti. Jangan lupa kalau kita ini hanya satu dari tujuh miliar manusia yang ada di bumi.

Tetapi betapa sering kita mengatakan dengan mulut bahwa kita ini hina, kecil, dan tidak berarti, tetapi hati kita sebenarnya ingin dihormati, dianggap penting, dan diutamakan. Kita merasa layak diutamakan oleh Tuhan. Kita merasa berhak untuk mengeluh kepada Tuhan untuk keadaan kita yang tidak seharusnya menderita. Saya seharusnya tidak miskin, tidak sakit, tidak sulit, tidak penuh pergumulan seperti ini. Saya berhak kaya. Saya berhak sehat. Saya berhak menerima kemudahan. Saya berhak bebas dari kesusahan. Saya berhak diperhatikan… dan semua ini kita rasakan sambil mulut kita mengatakan bahwa kita tidak layak. Haruskah Tuhan memperhatikan kita? Tuhan menaikkan raja-raja dunia ini, dan menurunkan mereka jika waktunya telah tiba. Tuhan membangkitkan bangsa-bangsa yang menguasai seluruh dunia, dan menghancurkan mereka ketika waktunya tiba. Tuhan menguasai seluruh pasukan malaikat. Tuhan lebih agung dan besar dari semua keindahan langit dan bumi yang bisa kita saksikan. Apakah Dia harus memperhatikan kita? Siapakah kita? Bahkan pemimpin bangsa ini pun tidak harus memperhatikan Saudara seolah-olah Saudara begitu penting bagi bangsa ini. Jika kita bukan siapa-siapa, berhentilah meminta Tuhan memperlakukan kita seolah-olah kita sangat penting dan berarti. Doa-doa kita, permohonan, keluh kesah, biarlah semua itu dilakukan dengan kesadaran bahwa kita orang yang hina dan tidak layak, yang hanya memohon dengan kesadaran bahwa Allah tidak harus mendengarkan kita.

Setelah terus ingat betapa tidak layaknya kita, maka kita akan melihat anugerah Tuhan dengan cara yang baru. Setiap hal yang kita terima itulah anugerah Tuhan. Hanya orang yang mengingat terus ketidaklayakannya yang akan menghargai dan menikmati berkat Tuhan. Hari demi hari kita menikmati pemeliharaan, penyertaan, dan anugerah demi anugerah yang Tuhan masih izinkan kita nikmati.

Tetapi bagaimana caranya kita dapat menyadari terus ketidakberartian kita? Dengan mengingat Siapakah Allah dan betapa besar kuasa-Nya atas seluruh bumi. Jangan merasa layak, jangan merasa berhak diperhatikan Tuhan, jangan merasa berhak disertai Tuhan, jangan merasa berhak dikasihi Tuhan. Tetapi ketahuilah dari janji Tuhan bahwa Dia telah melayakkan kita, Dia terus menerus memperhatikan kita, Dia berkenan menyertai kita, dan Dia berjanji untuk terus menyatakan kasih setia-Nya. Apakah kita berhak mendapatkan semua itu? Tidak. Bagaimana jika suatu saat di dalam hidup kita Tuhan izinkan kita mengalami keadaan yang sulit. Apakah kita akan marah dan menolak Tuhan? Jika kita tetap dengan rendah hati menerima semuanya dengan rela, maka berarti kita benar-benar sadar akan ketidaklayakan kita. Dengan ini kita akan menerima semua anugerah Tuhan tanpa menjadi lupa diri. Kita hanyalah hamba Tuhan yang tidak layak. Jadilah pada kita apa pun yang Tuhan anggap baik.

Doa:
Tuhan, kami tidak mau lupa diri. Kami tidak mau meremehkan anugerah-Mu. Kami tidak mau menjadi angkuh dan menganggap sudah sewajarnya Tuhan memberkati kami. Kami mohon supaya kami terus ingat bahwa kami bukan siapa-siapa. Kami hanyalah orang-orang yang tidak berarti tetapi mendapatkan anugerah Tuhan hari demi hari. Kami hanyalah hamba-Mu, dan kami tidak layak menerima apa pun. Jadilah pada kami sesuai dengan kehendak-Mu. (JP)