Renungan Harian 510 (Selasa, 21 Januari 2020)

Perjumpaan Kembali

Devotion from Yohanes 16:16-22

Sama seperti yang juga tercatat di dalam Injil Sinoptik (Matius, Markus, dan Lukas), Yesus memberitakan tentang kematian dan kebangkitan-Nya. Tetapi penggambaran kematian dan kebangkitan Yesus melalui sudut pandang Yohanes sangat menekankan keintiman dan relasi. Yesus mengatakan bahwa Dia dan para murid tidak akan pernah terpisah, karena meskipun Dia akan bersama dengan Bapa di surga, namun Dia akan datang kembali. Dan sebelum Dia datang kembali, Dia akan memberikan Roh Kudus untuk menyertai kita yang masih ada di dunia ini. Tetapi, sebelum Dia pergi kepada Bapa, ada waktu singkat di mana Kristus terpisah dari murid-murid-Nya karena kematian-Nya di kayu salib. Inilah yang Yesus sedang ajarkan di dalam bacaan hari ini. Saat yang sangat berat akan dialami, baik oleh Yesus sendiri maupun para murid. Para murid belum tahu apa yang akan terjadi, tetapi mereka segan bertanya kepada Yesus. Ini adalah keadaan yang sangat sulit yang dipikul oleh Juru Selamat kita, tetapi yang Dia pikirkan adalah bagaimana keadaan murid-murid-Nya ketika penyaliban-Nya tiba (ay. 20). Maka Dia mempersiapkan mereka dengan pengajaran-Nya.

Di dalam pengajaran ini, kita dapat menemukan pengertian yang sangat dalam berkait dengan kematian. Kematian yang harus dihadapi Yesus adalah kematian di dalam rencana Allah. Kematian ini memberikan kemenangan atas kematian. Kematian ini adalah satu-satunya kematian yang memberi harapan bagi orang yang akan mati. Yesus Kristus menjadi satu-satunya jalan untuk kematian dapat ditaklukkan. Di luar Yesus, kematian menjadi satu misteri yang tidak bisa dipecahkan. Kematian adalah titik akhir kita berada di dunia ini. Apa yang terjadi setelah kematian menjadi permainan spekulasi agama dan filsafat. Bagaimana memaknai kematian juga menjadi pembahasan yang tidak habis-habisnya dan tidak berujung pada kesimpulan yang pasti. Siapakah yang dapat menjelaskan tentang kematian dan keadaan sesudahnya? Hanya Dia yang pernah bangkit dari antara orang mati. Bukankah Lazarus pernah bangkit juga? Bukankah anak yang dibangkitkan Elia atau yang dibangkitkan Elisa, atau orang-orang mati yang dibangkitkan Yesus di dalam pelayanan-Nya seharusnya juga bisa menjelaskan tentang keadaan setelah kematian? Tidak. Mengapa tidak? Karena mereka tidak pernah berkuasa atas kematian dan kebangkitan mereka. Makna kematian dan kebangkitan mereka tidak pernah dinubuatkan oleh Kitab Suci dan tidak diketahui oleh mereka sendiri. Tidak ada keterangan, catatan, atau pengajaran apa pun yang keluar dari mulut mereka untuk menjelaskan kematian dan keadaan sesudahnya. Mereka bukanlah orang yang memiliki otoritas untuk menjelaskan tentang kematian mereka sendiri. Mereka secara pasif mati, dan mereka secara pasif bangkit. Yesus Kristus tidak demikian. Dia dengan rela menyerahkan nyawa-Nya dan Dia tahu mengapa Dia harus mati, dan Dia juga tahu bahwa Dia akan bangkit dan menggenapi kedatangan Kerajaan Allah di dunia ini. Kematian dan kebangkitan Kristus adalah kematian dan kebangkitan yang telah dijelaskan di dalam Perjanjian Lama dan digenapi di dalam diri Kristus pada waktu yang telah ditentukan (Luk. 24:25-27).

Bagaimanakah manusia melihat kematian? Kematian adalah keterpisahan. Terpisahnya manusia dari hidup di bumi, terpisahnya manusia dari menikmati berkat Tuhan, bahkan juga terpisahnya manusia dari menyembah Tuhan. Dapatkah orang menyembah Tuhan di dunia orang mati? Demikian pertanyaan retorik Daud di dalam Mazmur 6:6. Kematian juga memisahkan manusia dari orang-orang yang dikasihinya. Perpisahan yang menyakitkan dan yang tidak bisa diselesaikan. Sampai kapan pun kematian akan terus menyatakan kemenangannya dan sengatnya yang berkuasa. Semua jalan keluar dari kemenangan dan sengat maut hanyalah dongeng dan mitos yang mulai dilupakan dan tidak lagi diharapkan di zaman modern ini. Semua tawaran agama yang semu hanya memberikan kepada kita janji yang tidak bisa dilihat dan dialami. Itulah topeng dari agama. Itulah kepalsuan dari kalimat “beriman tidak perlu bukti” yang ditawarkan oleh agama-agama palsu. Di manakah bukti pengharapan kita? Tidak terlihat. Kalau terlihat itu namanya ilmu, kalau tidak terlihat barulah disebut iman. Inilah kalimat-kalimat yang makin mendapatkan ejekan dan serangan ilmu pengetahuan. Semua janji-janji agama tidak bisa dibuktikan, kecuali agama Kristen. Kecuali agama Kristen? Ya. Adakah bukti? Ada. Yesus telah menjanjikan bukti itu sebelum terjadi. Dia menenangkan hati murid-murid dengan berita kematian-Nya. Kematian-Nya adalah seperti nyeri bersalin yang dialami seorang perempuan. Nyeri yang segera sirna melihat seorang anak telah dilahirkan ke dalam dunia ini. Demikian juga dengan kematian Yesus. Kematian yang akan menimbulkan sakit yang sangat besar di dalam jiwa para murid, tetapi yang akan segera dikuburkan oleh kebangkitan Yesus. Kebangkitan Yesus akan memberikan penghiburan yang menghilangkan segala kesedihan mereka. Yesus telah bangkit dan para murid telah menyaksikannya. Kematian dan kebangkitan Yesus bukanlah fenomena yang kebetulan terjadi lalu dimaknai setelah terjadi. Kematian dan kebangkitan Yesus adalah peristiwa penting yang telah ditetapkan Allah dan telah dinubuatkan di dalam Kitab Suci. Perhatikan Ulangan 30:11-15 (bandingkan dengan Rm. 10:6-9); Mazmur 16:10, 22:7-31, 40:7; Ayub 19:25-26; Yesaya 25:8, 52:13-53:12; Yehezkiel 37:1-10; Zakharia 12:10. Kebangkitan dari kematian bukanlah sesuatu yang asing di dalam janji Tuhan. Tuhan telah menetapkan rencana untuk menaklukkan kematian!

Inilah pengharapan di dalam iman Kristen. Pengharapan yang berdasarkan bukti sejarah, yaitu kebangkitan Yesus. Tentu banyak orang yang menentang fakta bahwa kebangkitan Yesus adalah sesuatu yang terjadi di dalam sejarah. Tetapi apakah yang orang-orang itu katakan tentang catatan dari saksi mata yang ditulis di dalam dua puluhan buku yang ada di dalam tulisan Perjanjian Baru? Tentu mereka akan mengatakan bahwa tulisan itu bertendensi religius, untuk membenarkan satu agama tertentu saja, yaitu agama Kristen. Tetapi mengapa tulisan ini memberikan dasar pengertian dari Perjanjian Lama yang juga dipercaya oleh orang Yahudi? Mungkinkah ada konspirasi di dalam rentang waktu 1.500 tahun sejak zaman Musa hingga lahirnya kekristenan? Konspirasi yang berlanjut hingga 2.000 tahun selanjutnya? Mungkin saja. “Konspirasi” ini diatur oleh Allah sendiri, yang memulai penciptaan dan memeliharanya hingga saat ini. Siapa pun boleh menolak fakta bahwa Yesus bangkit, tetapi sulit sekali berargumen untuk meniadakan fakta bahwa ada para saksi yang melaporkan kesaksian mereka dengan cara yang menggenapi Perjanjian Lama. Kita menolak fakta Yesus bangkit? Lalu apa yang kita akan lakukan kepada tulisan-tulisan Perjanjian Baru?

Yesus akan bangkit, dan karena itu Dia dapat memberikan penghiburan seperti di dalam pasal 16 dari Injil Yohanes ini. Betapa indahnya persekutuan dengan Kristus dan di dalam Kristus. Persekutuan yang tidak akan diakhiri dengan kematian. Kematian tetaplah hal yang sangat menyedihkan, tetapi ada pengharapan melampaui kematian. Yesus memberikannya kepada para murid. “Engkau akan berdukacita untuk sementara, tetapi setelah itu Engkau akan melihat Aku lagi dan sukacitamu menjadi penuh. Tidak ada yang dapat mengambil sukacita itu dari Engkau.” Bukankah ini janji yang sangat indah? Memang Kristus akan mati disalib. Dunia akan bersukacita dan murid-murid akan berdukacita (ay. 20). Dunia berpikir dia telah menang karena berhasil mematikan Yesus. Murid-murid berpikir semua pengharapan sirna karena Yesus telah mati. Tetapi kebangkitan Yesus mengubah segalanya. Pengharapan baru sekarang dimeteraikan dengan kubur yang kosong. Pengharapan baru digenapi dengan perjumpaan kembali antara Dia yang disalib dengan para murid-Nya. Tidakkah kita rindu berada di dalam janji ini? Janji kemenangan yang tidak bisa ditawarkan oleh siapa pun selain dari Dia yang telah bangkit dari antara orang mati. Para murid belum mengerti karena semua yang diajarkan Yesus tentang kematian dan kebangkitan-Nya belum terjadi. Tetapi mereka mengingat ajaran ini, dan ketika tiba waktunya mereka berjumpa dengan Kristus yang bangkit, maka apa yang telah mereka dengar akan mereka pahami dengan tepat. Kematian ditaklukkan oleh Yesus yang bangkit. (JP)