Renungan Harian 282 (Jumat, 7 Juni 2019)

Pohon Ara yang Terkutuk

Devotion from Matius 21:18-22

Tuhan Yesus menjadikan peristiwa yang dialami-Nya menjadi contoh bagi murid-murid. Tuhan Yesus bertemu dengan pohon ara ketika Dia sedang lapar. Ini menjadi gambaran yang sangat tepat untuk menjelaskan bagaimana Allah begitu kecewa karena “pohon ara”-Nya yang tidak berbuah. Allah menantikan Israel berbuah, tetapi Israel menjadi kering dan tidak menghasilkan apa pun. Tuhan Yesus yang lapar mengharapkan buah dari pohon ara, tetapi tidak menemukan apa-apa. Allah yang rindu Kerajaan-Nya dinyatakan oleh Israel mengharapkan buah dari Israel, tetapi Dia tidak menemukan apa-apa. Kegagalan Israel untuk menjadi bangsa yang meninggikan Allah dan menyatakan pengenalan akan Dia ke seluruh bumi membuat Allah begitu kecewa dan membiarkan mereka kering, hingga akhirnya membuang mereka. Betapa tepatnya gambaran ini dengan peristiwa Yesus mengutuk pohon ara. Yesus tidak mengutuk pohon ara sebagai luapan emosi karena sedang lapar. Sama sekali tidak! Yesus mengutuk pohon ara sebagai simbol. Dia sedang menggambarkan peristiwa dibuangnya Israel dengan contoh ini agar mudah dipahami oleh para murid. Dia tidak bertindak karena emosi, apalagi karena lapar. Bukankah Dia berpuasa 40 hari dan tetap teguh di dalam penguasaan diri? Maka penggambaran seorang yang sedang lapar mengharapkan buah ara yang Yesus sedang nyatakan ini, dengan sangat jelas menggambarkan Allah yang sedang “lapar” menantikan buah dari Israel. Kegagalan Israel memberi buah membuat Allah menyingkirkan mereka, membiarkan mereka kering, dan memanggil orang-orang lain di dalam Kristus untuk melakukan apa yang Israel gagal lakukan.

Tetapi di dalam ayat 20 murid-murid terkejut melihat apa yang terjadi. Mereka begitu kaget karena pohon ara itu benar-benar menjadi kering. Mereka begitu kagum terhadap fenomena yang terjadi, tetapi mereka gagal memahami apa yang Yesus ingin sampaikan. Mereka hanya tahu pohon yang mendadak menjadi kering. Mereka pun bertanya bagaimana caranya pohon itu menjadi kering. Mereka tidak bertanya mengapa Tuhan Yesus melakukan itu. Yang mereka lihat hanyalah hal-hal yang di luar kebiasaan – tanda-tanda ajaib. Itulah yang membuat orang-orang terpukau. Tetapi pernahkah orang-orang itu bertanya, mengapa harus ada tanda-tanda itu? Tanda-tanda ajaib dilakukan Tuhan untuk menyatakan kebenaran-Nya. Jika ini gagal dipahami, maka selamanya para murid akan mempunyai cara berpikir yang tidak beda dengan orang-orang kebanyakan, yang hanya mengikut Yesus karena kagum dengan tanda-tanda ajaib, tetapi yang tidak mengerti apa yang mau disampaikan Tuhan melalui tanda-tanda ajaib itu.

Tetapi Tuhan Yesus tidak menegur ketidakpekaan mereka. Yesus malah menyatakan keistimewaan yang dimiliki oleh para murid. Yesus mengatakan bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah. Mereka, yaitu para murid, dapat meminta apa pun kepada Allah dan Allah akan mengabulkannya. Benarkah demikian? Para murid bisa meminta apa pun? Dan apakah ini juga masih berlaku untuk kita? Ya. Ini pun masih berlaku untuk kita. Tetapi jangan cabut perkataan Yesus dari konteksnya. Konteks bagian ini adalah pohon ara yang menjadi kering, yang adalah lambang dari keringnya Israel di hadapan Tuhan. Maka Tuhan Yesus sedang mengatakan bahwa para muridlah yang akan melanjutkan tugas yang Tuhan percayakan kepada pohon ara, yaitu Israel. Israel gagal, tetapi para murid akan berhasil. Apakah mungkin para nelayan sederhana dari Galilea ini sanggup mengerjakan hal yang Israel gagal lakukan? Tidak mungkin jika bukan Tuhan yang mengerjakan. Maka Tuhan Yesus tidak meresponi para murid yang begitu kagum dengan keringnya pohon ara. Yesus sedang mengarahkan pikiran para murid untuk kembali ke pemahaman untuk taat kepada Bapa dan menghasilkan buah demi kesenangan Bapa di Surga. Tidak ada yang mustahil jika kita meminta dengan iman kita, tetapi iman sejati berarti mengerti apa yang Allah sedang kerjakan. Iman sejati mengetahui bahwa apa yang Allah kerjakan, itulah yang harus terjadi di dalam dunia ini. Orang yang beriman akan berdoa supaya Kerajaan Allah datang. Orang yang beriman akan berdoa supaya kehendak Allah saja yang jadi. Orang yang beriman tidak akan minta hal-hal untuk kesenangan pribadinya! Orang beriman tidak akan egois! Orang beriman tidak akan serakah dan tidak mungkin penuh hawa nafsu duniawi! Orang beriman tidak mungkin cinta uang lebih daripada cinta Tuhan! Orang beriman tidak akan meminta hal-hal yang tidak berkait dengan kemuliaan nama Tuhan. Itulah sebabnya Yesus mengatakan, mintalah apa saja. Yang dimaksudkan apa saja adalah di dalam konteks menghasilkan buah bagi Allah. Apakah para murid berhasil? Ya. Mengapa? Karena Bapa mengerjakannya melalui mereka. Karena mereka berdoa dan meminta kepada Bapa untuk hal-hal yang mustahil dapat mereka kerjakan.

Tetapi apa yang mustahil itulah yang terjadi. Para murid memberitakan Yesus yang mati dan bangkit di seluruh Yerusalem. Para murid mempertobatkan ribuan orang hanya dalam beberapa hari pelayanan mereka di Yerusalem. Para murid menghasilkan lebih banyak lagi murid-murid. Dan murid-murid inilah yang menyebarkan Injil ke seluruh Israel. Mereka terus melakukannya meskipun harus diusir, dianiaya, diancam, dan ditindas dengan kekuatan sebesar apa pun. Siapakah para murid ini? Nelayan sederhana dari Galilea. Mungkinkah mereka memenangkan seluruh Israel dan menyebarkan Injil ke seluruh dunia? Tidak mungkin. Melakukan itu adalah seperti menyuruh gunung untuk beranjak dan tercampak ke dalam lautan. Tetapi mereka meminta hal itu kepada Bapa. Mereka mendoakannya dengan iman yang penuh, maka Allah mengerjakannya sesuai kehendak-Nya untuk menjawab doa mereka. Allah berkenan menjawab doa mereka! Maka berita Injil tidak lagi bisa dihentikan oleh siapa pun. Para murid bekerja dengan keajaiban kuasa Roh Kudus yang di luar pemikiran manusia! Gunung itu benar-benar beranjak dan tercampak ke dalam lautan. Dunia yang dikenal saat itu, mulai dari Yerusalem, seluruh Palestina, Siria, Mesir, Sungai Efrat, bahkan Yunani dan Romawi, semuanya dimenangkan oleh berita Injil! Tidak ada yang mustahil. Mintalah supaya pekerjaan Tuhan benar-benar sanggup kita kerjakan dengan limpah. Mintalah supaya Tuhan berkenan mengerjakannya melalui kita. Mintalah supaya kita berbuah dengan sangat lebat sehingga hasil yang terjadi melampaui pemikiran manusia.

Ay.21 dan 22: Yesus tidak menegur ketidakpekaan mereka. Yesus menekankan keistimewaan yang mereka miliki. Mintalah, yang tidak mungkin sekalipun, dan Allah akan lakukan untuk mereka. Ini merupakan perbandingan antara Israel yang tidak berbuah dengan para murid yang akan dengan limpah berbuah karena mereka meminta kepada Bapa yang di surga. Bapalah yang membuat mereka tidak kering seperti pohon ara yang tidak berbuah, atau seperti Israel yang akhirnya dibiarkan kering oleh Tuhan. Bapa membuat mereka berlimpah di dalam pekerjaan Tuhan, sehingga dimulai dari mereka seluruh bumi mengenal berita salib Kristus. Bapa membuat mereka berlimpah di dalam menghasilkan buah karena mereka meminta kepada Dia sehingga mereka tidak kering seperti pohon ara itu, meskipun sebenarnya untuk bisa berbuah selebat para murid, membuat Yerusalem menjadi Kristen, bahkan mulai dari Yerusalem ke seluruh Yudea, Samaria, sampai ke ujung dunia adalah pekerjaan yang mustahil. Mustahil seperti memindahkan gunung dan membuatnya tercampak ke dalam laut. Tetapi di dalam doa kepada Tuhan dengan iman bahwa Tuhan akan menyatakan kemuliaan-Nya melalui pekerjaan-Nya yang kita doakan, maka yang mustahil itu pun akan terjadi.

Mari kita meminta kepada Tuhan supaya kita pun berbuah bagi Tuhan. Berbuah bukan hanya sekadar menghasilkan buah ara yang satu atau dua. Berbuah dengan cara yang sangat berlimpah, sehingga semua orang yang melihatnya tahu, bahwa buah itu tidak mungkin dihasilkan dengan kekuatan tangan seorang manusia. Buah itu hanya bisa dilakukan oleh Allah. Mintalah, Saudaraku sekalian! Minta supaya Tuhan memperbesar pekerjaan-Nya. Mintalah supaya kebenaran firman, perasaan cinta Tuhan, dan kebenaran Kitab Suci boleh disebarkan melalui kita hingga mencapai kebesaran yang hanya Tuhan bisa kerjakan. Mintalah buah yang melampaui segenap kemampuan kita supaya hanya nama Tuhan yang dipermuliakan. (JP)