Renungan Harian 291 (Minggu, 16 Juni 2019)

Perbedaan Yesus dengan Ahli Taurat dan Orang Farisi

Devotion from Matius 23:1-12

Apakah yang membedakan Yesus dengan para pemimpin agama Israel? Yesus mulia, tetapi rela dihina. Para ahli Taurat dan orang Farisi hina, tetapi ingin dipermuliakan. Orang Farisi dan ahli Taurat itu menginginkan agar orang-orang mengingat siapa mereka, jabatan mereka, dan menuntut agar orang-orang memberikan penghormatan kepada mereka, tetapi Yesus tidak pernah menuntut itu. Semua orang yang mengikuti Dia memberikan penghormatan mereka dengan rela. Orang Farisi dan ahli Taurat juga iri hati karena Yesus menjadi sangat populer hanya di dalam waktu sekitar tiga tahun saja. Orang-orang Yahudi yang seharusnya mendengar mereka sekarang lebih memilih untuk mendengar Yesus. Inilah sumber utama kemarahan orang-orang Farisi dan ahli Taurat. Maka mereka berencana untuk membunuh Yesus. Mereka menuduh Dia merombak banyak hal dari yang mereka ajarkan. Tetapi Yesus tidak merombak ajaran yang benar, dia merombak yang salah. Siapa yang marah karena ajarannya dirombak oleh Yesus berarti lebih memilih ajaran yang salah, selama itu keluar dari mulutnya sendiri.

Kebobrokan para pemimpin agama itu tidak hanya karena mereka membenci Yesus. Mereka membenci Yesus karena selama ini mereka memang tidak mengajarkan kebenaran dari firman Tuhan, atau kalaupun mereka mengajarkannya, mereka sendiri tidak mengakuinya dan tidak melakukannya di dalam hidup mereka. Kebobrokan inilah yang mendorong Yesus mengkritik mereka. Bahkan bukan hanya mengkritik, Yesus memperingatkan mereka dengan kalimat-kalimat celaka yang sangat keras. Dalam bagian ini Yesus membongkar sifat sombong para pemimpin agama itu dengan sangat jelas. Tetapi, meskipun demikian, Yesus tetap meminta orang-orang Yahudi untuk mendengarkan ajaran ahli Taurat dan orang Farisi selama mereka mewakili Musa dengan benar (ay. 2). Jika ajaran mereka memang benar, silakan taati ajaran itu. Tetapi Yesus segera menyindir dengan mengatakan bahwa para pemimpin itu mengajarkan kebenaran, tetapi tidak menghidupi kebenaran.

Inilah hal pertama yang Yesus nyatakan tentang ahli Taurat dan Farisi. Mereka mengajar dengan tekun tetapi tidak ada ketekunan sama sekali di dalam diri mereka untuk menaati apa yang mereka sendiri ajarkan. Pengajar, tetapi bukan murid kebenaran. Pengajar, tetapi hidupnya melawan apa yang sudah dia ajarkan. Inilah pengajar munafik yang hanya mau menerima hormat dari manusia. Memperoleh hormat dari manusia itu sangat gampang karena manusia mudah sekali ditipu. Tinggal tunjukkan penampilan dan tingkah laku yang suci, maka kita akan dianggap sebagai orang suci. Tetapi Tuhan tidak bisa ditipu. Siapa yang berpura-pura, Tuhan pasti tahu. Tuhan tidak perlu diberitahu oleh siapa pun tentang manusia (Yoh. 2:25). Marilah dengan gentar kita memeriksa hidup kita. Apakah kita begitu senang dengan pujian manusia? Apakah kita begitu pandai mengambil hati manusia? Apakah kita begitu fasih mengajar? Semua itu adalah jerat bagi keadaan hati kita. Jika orang-orang telah menilai kita baik, maka kita akan menipu diri kita dan membenarkan diri serusak apa pun tingkah laku kita sesungguhnya. Nasihat akan diabaikan, dan firman akan dianggap tidak relevan bagi diri kita sendiri. Inilah kepalsuan hidup rohani yang sangat berbahaya. Kiranya kita tidak menjalani kepalsuan sedemikian di hadapan Tuhan.

Hal kedua yang Yesus nyatakan adalah bahwa orang Farisi dan ahli Taurat menuntut orang lain menjalankan apa yang mereka sendiri tidak sanggup jalankan. Tuntutan Taurat menjadi sangat berat dan sangat tidak penting karena ajaran mereka. Mereka memasukkan begitu banyak peraturan yang Tuhan sendiri tidak nyatakan. Peraturan mereka mementingkan hal-hal yang Tuhan sama sekali tidak gubris! Mereka lebih ketat daripada Musa! Hal-hal yang Tuhan toleransi mereka larang dengan ketat. Hal-hal yang Tuhan biarkan mereka perintahkan dengan tegas. Tetapi mereka tidak merasa berkewajiban untuk menaati perintah mereka sendiri dengan ketat! Inilah yang Yesus bongkar. Mereka memberikan standar sangat tinggi untuk orang lain, tetapi sebenarnya mereka hidup di dalam standar yang jauh lebih rendah dari yang mereka telah tetapkan untuk orang lain. Mereka tidak sadar kalau mereka jauh dari apa yang seharusnya menurut standar mereka sendiri. Mereka meletakkan beban yang sangat berat, tetapi orang lain yang pikul. Betapa celaka jika kita juga melakukan hal yang sama. Kita menghina orang lain karena gagal melakukan apa yang bisa kita lakukan, tetapi kita lupa hal-hal yang kita gagal lakukan dan orang lain bisa lakukan. Jangan menjadikan diri standar. Biarlah kita semua merasa masih berada di dalam keadaan yang perlu perbaikan sehingga kita bisa membimbing orang lain untuk datang kepada Tuhan dengan kesadaran bahwa kita pun sedang berusaha untuk hidup lebih baik. Biarlah kekurangan kita membuat kita sabar membimbing orang lain yang juga tidak sempurna, karena Kristus yang sempurna pun sabar membimbing kita.

Hal berikut yang Yesus bongkar adalah kesukaan mereka untuk menerima hormat. Orang-orang ini sangat gila hormat. Tetapi orang-orang yang mencari hormat malah direndahkan dengan sangat oleh Yesus. Yesus membongkar semua tabiat hina dan cemar di dalam diri mereka. Keangkuhan, sifat menghakimi, sikap menganggap diri penting, semua dinyatakan dengan terus terang oleh Yesus. Orang Farisi dan ahli Taurat itu mengerjakan segala sesuatu untuk mendapatkan hormat dari manusia. Mereka ingin dianggap pemimpin spiritual, bergiat untuk Tuhan, suci, agung, mengasihi dan dikasihi Allah, tetapi Tuhan Yesus mengatakan bahwa itu semua hanyalah di depan manusia. Allah tahu isi hati mereka dan karena itu semua yang mereka kerjakan itu tidak mendapat perkenanan di hadapan Allah.

Mengapa mereka bisa begitu korup dan rusak? Kelompok Farisi tadinya adalah aliran yang mau mempertahankan hidup suci dan menghindarkan diri dari kecemaran budaya kafir di Israel. Mereka adalah golongan Hasidim yang begitu giat bagi Tuhan dan tanpa kompromi menjalankan perintah Tuhan. Mereka memisahkan diri dari orang-orang Israel lain yang sudah mengompromikan iman mereka pada zaman dinasti Hasmonean (keturunan dari keluarga Makabeus) memerintah Israel. Pada waktu itu kelompok Farisi merupakan penafsir Taurat yang paling dihormati dan paling akurat. Mereka menolak nama besar dari dunia politik (tidak seperti orang Saduki yang dekat dengan pemerintah), dan menolak hidup mewah dan berfoya-foya dari gaya hidup bangsa-bangsa lain. Mereka pun segera mendapatkan hormat dan perasaan kagum dari rakyat Israel. Mereka dengan kehidupan yang suci mau terus setia kepada Tuhan di tengah-tengah bangsa mereka yang telah banyak kompromi. Tetapi seiring berjalannya waktu, mereka mulai makin kuat sebagai kelompok. Mereka mempunyai pengaruh politik yang sangat besar sebagai partai dan mereka juga menjadi sumber otoritas agama yang paling berpengaruh di Israel pada zaman Yesus di bumi, jauh melampaui golongan Saduki. Begitu kekuatan mereka menjadi makin besar, pada saat itu juga kemurnian hati makin berkurang. Mereka menjadi kelompok yang arogan, cemar tanpa menyadari kecemaran mereka, dan yang paling fatal, mereka menjadi kelompok yang ingin membunuh Tuhan Yesus, Anak Daud yang dikirim Allah menjadi Mesias bagi Israel.

Kiranya Tuhan menjauhkan kita dari hal-hal seperti ini. Kiranya Tuhan membimbing hati kita sehingga terus dipelihara di dalam ketulusan dan kerendahan hati. Mari mengawasi diri sendiri. Kita mengajar orang lain? Ajarlah diri kita sendiri terlebih dahulu. Kita berada di tengah-tengah jemaat Tuhan yang belum dewasa dan masih hidup di dalam kecemaran? Bersabar kepada mereka dan bimbing mereka dengan penuh kewaspadaan dan kerendahan hati. (JP)