Renungan Harian 382 (Minggu, 15 September 2019)

Umat Pilihan di Korintus

Devotion from Kisah Rasul 18:9-17

Di tengah-tengah perdebatan yang terjadi karena berita Injil, Tuhan memberikan kekuatan kepada Paulus untuk bertahan. Tuhan mengingatkan Paulus akan penyertaan-Nya. Penyertaan yang membuat setiap hamba-Nya yang taat dan berani mengambil langkah iman kembali dikuatkan karena sadar bahwa dia berada di dalam jalur yang benar, yaitu jalur yang dituntun dan ditopang oleh Tuhan. Paulus dikuatkan oleh Tuhan dengan janji penyertaan-Nya (ay. 10), mengingatkan Paulus bahwa Tuhanlah yang selama ini memberikan kekuatan, keberanian, kuasa, dan segala hal yang diperlukan oleh dia untuk mengabarkan Injil Tuhan. Tuhanlah yang menyatakan Injil Anak-Nya kepada manusia melalui hamba-hamba-Nya, termasuk Paulus. Oleh karena itu setiap hamba-hamba-Nya ini dapat memiliki keyakinan bahwa apa yang dikerjakan oleh Allah tidak akan mungkin gagal. Tuhan akan membuka jalan, menyatakan Injil-Nya, dan terus bekerja menyatakan kemenangan-Nya.

Selain dengan menyatakan penyertaan-Nya, Tuhan juga menguatkan Paulus dengan menyatakan bahwa banyak umat yang sudah dipilih-Nya di Korintus. Tuhan telah memilih siapa yang akan diselamatkan-Nya dan inilah yang menjadi kekuatan untuk memberitakan Injil. Apakah jaminan bahwa pengabaran Injil akan berhasil? Karena adanya orang-orang yang telah Tuhan pilih. Tuhan telah menetapkan siapa yang akan Dia selamatkan di dalam anugerah dan kedaulatan-Nya (Ef. 1:4). Pemilihan Tuhan tidak meniadakan tanggung jawab manusia untuk menginjili. Tetapi yang lebih tepat lagi adalah: pemilihan Tuhan justru menjadi kekuatan dan dorongan untuk menginjili. Paulus dikuatkan dengan fakta bahwa ada banyak orang pilihan Tuhan di Korintus yang hingga sekarang belum mendengar Injil, dan karena itu dia harus tinggal di kota itu untuk memberitakan Injil kepada mereka. Inilah dorongan yang sejati! Dorongan yang disertai dengan kesadaran bahwa Allah yang berdaulatlah yang memerintahkan, menyertai, menguatkan, dan menyediakan kaum pilihan untuk mendengarkan Injil. Puji Tuhan untuk segala anugerah yang telah Dia siapkan untuk menyatakan Kristus bagi seluruh dunia.

Inilah yang menguatkan Paulus untuk menetap di Korintus selama satu setengah tahun (ay. 11). Tuhan menyertai pelayanan Paulus di sana, tetapi ketika waktunya telah cukup bagi Paulus untuk berada di sana, maka Tuhan pun memindahkan Paulus ke tempat lain. Waktu Tuhan bagi Korintus telah diberikan dengan menetapnya Paulus selama satu setengah tahun tersebut. Waktu itu pun habis karena setelah waktu itu orang-orang Yahudi kembali membuat masalah yang menguji kesabaran Tuhan dengan melawan pengabaran Injil yang dilakukan oleh Paulus (ay. 12-13). Mereka mulai berulah pada waktu Galio menjadi gubernur. Galio adalah adik dari filsuf Stoik terkenal, yaitu Lucius Annaeus Seneca. Menurut Seneca, Galio adalah seorang yang sangat baik dan menyenangkan bagi siapa pun. Tetapi, walaupun menyenangkan bagi banyak orang, Galio tidak begitu suka orang-orang Yahudi. Dia tidak mau mengurusi hal-hal yang berkait dengan agama Yahudi. Bukan hanya Galio. Banyak gubernur Roma di daerah-daerah taklukkan yang juga bersifat anti Yahudi. Menurut seorang ahli PB, Ben Witherington III, sebagian besar pemimpin Roma menunjukkan tendensi anti Yahudi. Galio memerintah di dalam jangka waktu yang pendek di Korintus, dan di dalam masa pemerintahan dia inilah terjadi gerakan anti kekristenan di Korintus oleh gabungan kelompok-kelompok Yahudi di sana.

Isu yang dikobarkan oleh orang-orang Yahudi itu untuk menentang Paulus lagi-lagi adalah permasalahan Taurat. Mereka menganggap Paulus menolak Taurat dan mengajarkan ajaran-ajaran yang menentang Taurat. Tuduhan ini muncul dari kedegilan hati orang-orang Yahudi itu sendiri. Bukan Paulus yang menentang Taurat, tetapi mereka. Merekalah yang menentang Taurat dengan cara menentang Dia yang datang untuk menggenapi Taurat. Mereka menentang Kitab Suci dengan menolak Dia yang telah dinubuatkan oleh Kitab Suci. Pemberitaan Kitab Suci orang Yahudi sangat berfokus kepada nubuat kedatangan Sang Mesias. Tetapi dengan tuduhan yang muncul dari kekerasan hati mereka sendiri, mereka membawa Paulus ke gedung pengadilan di Korintus. Tetapi Tuhan menggerakkan hati Galio untuk tidak memedulikan perkara itu. Dia, dengan perasaan muak dengan peraturan-peraturan asing yang masuk ke dalam daerah kekuasaan Roma, segera meninggalkan ruang pengadilan setelah menyatakan menolak mengurusi perdebatan mengenai peraturan-peraturan yang dia sendiri tidak setujui. Tuhan mencegah permainan politik orang-orang Yahudi itu. Meskipun Galio tidak membela Paulus (karena dia menganggap Paulus hanyalah satu dari orang-orang Yahudi pengacau kotanya), tetapi Tuhan pakai dia untuk mencegah Paulus ditangkap pada waktu itu. Baik Paulus maupun orang-orang Yahudi yang mengadukan dia, semuanya diusir oleh Galio dari gedung pengadilan itu. Pertentangan antara orang Yahudi dengan Kristen makin meluas. Ayat 17 mengatakan bahwa sekelompok besar orang menyerbu sinagoge dan memukul Sostenes. Kemungkinan ini adalah Sostenes yang tertulis di 1 Korintus 1:1. Kemungkinan dia adalah orang Yahudi yang bertobat dan menjadi Kristen karena pelayanan Paulus. Dia menjadi sasaran amukan orang banyak itu dan menderita karena kejahatan mereka.

Untuk direnungkan:
Tuhan menyatakan penyertaan-Nya dan Paulus menikmati penyertaan itu baik dalam keadaan tenang maupun dalam keadaan banyak goncangan. Tuhan menyertai bukan berarti semua berjalan dalam keadaan tanpa kesulitan. Tidak ada orang yang akan merasakan penyertaan Tuhan dengan penuh perasaan syukur lebih daripada orang yang mengalami penyertaan tersebut di saat yang sangat sulit. Tetapi alasan penyertaan Tuhan adalah demi umat-Nya yang dikasihi-Nya. Paulus tinggal di Korintus selama satu setengah tahun bukan karena tinggal di sana memberikan keuntungan bagi dia. Paulus tinggal di sana karena Tuhan yang memerintahkan, dan Tuhan memerintahkan karena banyak umat Tuhan di kota itu yang perlu dimenangkan untuk Tuhan.

Tuhan menyertai karena kasih-Nya bagi umat-Nya. Itulah sebabnya kita perlu memahami kasih-Nya ini. Perasaan hati yang selaras dengan perasaan hati Tuhan sangat beda dengan semangat mementingkan kelompok sendiri, seperti yang ditunjukkan oleh orang-orang Yahudi yang menghambat pelayanan Paulus di Korintus. Tradisi menjadi lebih penting daripada manusia. Kebiasaan, adat istiadat, bangsa, suku, dan segala kepicikan dalam pengagungan diri dan ras sendiri, menjadikan mereka tidak lagi peka terhadap isi hati Tuhan. Apa yang Tuhan rasakan, apa yang sedang Dia kerjakan, dan apa yang menjadi kehendak-Nya, semua itu tidak lagi dipahami. Semua hal ini telah ditenggelamkan oleh kebanggaan sia-sia dari sisa-sisa kejayaan Israel yang sudah tidak akan terjadi lagi. Orang-orang Kristen harus memahami hal ini dengan tepat. Dia adalah wakil Tuhan untuk menyatakan kemuliaan-Nya di dalam hidupnya. Dia tidak boleh mengabaikan Tuhan dan mengabaikan kehendak-Nya. Orang-orang Kristen harus tahu bahwa Tuhan sangat mengasihi orang-orang pilihan-Nya. Dia akan mengutus hamba-hamba-Nya untuk melayani orang-orang pilihan-Nya itu. Orang-orang pilihan itu termasuk orang-orang yang belum mau percaya kepada Tuhan Yesus. Sebesar apa pun gedung gereja, kemampuan khotbah, maupun dalam dan luasnya pengetahuan yang dimiliki, semua ini harus ditujukan untuk memenangkan orang-orang pilihan Tuhan. Perhatian, kerja keras, dan juga seluruh perjuangan Paulus di Korintus adalah untuk orang-orang pilihan Tuhan, baik yang sudah percaya ataupun mereka yang sedang berusaha dijangkau oleh dia (2Kor. 11:27-28). Adakah yang lebih penting daripada menyenangkan Tuhan? Adakah yang lebih layak dipertahankan daripada mencari perkenanan Tuhan? Tidak mungkin ada hal lain yang menyenangkan Tuhan di luar umat-Nya yang dikasihi-Nya. (JP)