Renungan Harian 448 (Rabu, 20 November 2019)

Dari Siapa Yesus Berasal

Devotion from Yohanes 7:25-36

Pertentangan tentang siapakah Yesus terus terjadi. Orang-orang di Yerusalem yang menolak Dia mengatakan bahwa Dia tidak mungkin Mesias yang sejati. Setelah mereka mengeluarkan berbagai alasan, di dalam ayat 27 mereka memberikan alasan tentang asal usul Yesus. Menurut tradisi Yahudi, asal usul Sang Mesias itu tidak diketahui. Tidak ada yang tahu dari mana Sang Mesias berasal. Pertentangan tentang asal usul Mesias sudah menjadi perdebatan sejak lama. Yang dimaksudkan di sini bukanlah tempat kelahiran Sang Mesias, karena dari Kitab Mikha telah diketahui kalau Mesias akan dilahirkan di Betlehem, tempat asal Daud (Mi. 5:1). Tradisi Yahudi memperdebatkan dari mana Sang Mesias datang sebelum Dia dinyatakan bagi Israel. Tradisi para rabi ini umumnya membuat paralel antara Sang Mesias dengan Musa. Orang Israel di Mesir tidak tahu di mana Musa berada sebelum dinyatakan kepada Israel. Dia disembunyikan dari umat Tuhan selama 40 tahun sebelum memulai pelayanannya. Demikian juga menurut kepercayaan mereka, Sang Mesias disembunyikan sebelum dinyatakan bagi Israel. Asal usulnya menjadi misteri. Tidak ada yang tahu bagaimana Sang Mesias itu dibentuk, belajar, siapa gurunya, dan seperti apa kesehariannya sebelum dia dinyatakan kepada Israel. Tetapi mereka tahu asal usul Yesus. Yesus adalah seorang Nazaret, dan dari Nazaret tidak pernah muncul nubuat ataupun janji bahwa seorang nabi akan berasal dari sana.

Tetapi untuk menjawab perdebatan ini, Yohanes mencatat ajaran Yesus di Bait Suci. Yesus berkata bahwa orang banyak tidak tahu dari mana Dia berasal. Tetapi yang Yesus tekankan bukanlah tempat Dia berasal, melainkan dari siapa Dia berasal. Yesus mengatakan bahwa orang banyak tidak mengenal Bapa di surga. Yesus Kristus berasal dari Bapa di surga. Siapa pun yang tidak mengenal Bapa di surga tidak mungkin bisa mengenal Kristus. Tetapi siapa yang mau datang kepada Kristus, dia akan mengenal Bapa di surga. Injil Yohanes tidak tertarik untuk membuktikan tempat Yesus berasal. Injil ini mengajarkan tentang dari siapa Dia berasal. Ini jauh lebih penting! Apakah pentingnya tempat? Mesias yang sejati datang dari Allah, dikasihi oleh Allah, dan adalah Anak Allah. Tidak seorang pun tahu Allah, kecuali Yesus menyatakan siapa Allah kepada mereka.

Di dalam ayat 30 dikatakan bahwa perkataan itu membuat orang yang mendengar Dia ingin membunuh Dia. Yerusalem penuh dengan orang yang sangat gigih membela agama Yahudi. Perkataan Yesus membangkitkan kemarahan mereka dan membuat mereka ingin membunuh Dia. Dia menyatakan diri-Nya sebagai yang diutus Allah dan mengatakan bahwa orang Yahudi tidak mengenal Allah (ay. 28). Betapa beraninya perkataan ini! Siapa pun yang berani mengatakan kalimat ini harus mati. Orang Yahudi merasa begitu giat bagi Allah, begitu berani, bahkan rela mati demi Allah mereka. Mereka rela berperang dan membunuh bangsa mana pun jika mereka harus melakukannya. Mereka siap memberontak dan mati demi Israel dan Allah Israel, dan Yesus ini berani mengatakan bahwa hanya Dia yang mengenal Allah?

Tetapi di tengah-tengah orang-orang yang membenci Dia, tetap ada banyak orang yang masih mengikuti Dia. Mereka mengingatkan orang-orang yang menentang Yesus bahwa Yesus mengerjakan mukjizat lebih banyak daripada siapa pun yang hidup ataupun yang tercatat di masa lalu. Mukjizat yang dikerjakan Yesus melampaui para nabi! Perdebatan yang masih seimbang ini membuat penangkapan Yesus belum bisa terlaksana. Waktu-Nya belum tiba! Meskipun orang-orang yang membenci Dia ingin menangkap Dia, tetapi mereka yang mendukung Dia menentang penangkapan ini. Di dalam bagian akhir Injil Yohanes barulah kuasa kejahatan menunjukkan dirinya dengan penuh. Pada waktu itu seluruh Yerusalem sepakat bahwa Yesus harus dijatuhi hukuman mati (Yoh. 19:13-15), tetapi di dalam bagian ini belum.

Mengetahui keinginan orang-orang Farisi untuk menangkap Dia, Yesus segera melanjutkan pengajaran-Nya dan mendesak orang banyak untuk segera menerima ajaran-Nya. Dia tidak pernah bertindak apa pun untuk diri-Nya sendiri. Dia melakukan segalanya untuk memperkenalkan Allah Bapa ke umat-Nya yang Dia kasihi. Yesus mengatakan waktu-Nya sudah sangat singkat. Dia datang dari Allah dan Dia akan segera kembali kepada Allah. Tidak banyak waktu bagi Israel. Waktu terus berjalan, juga ketika mereka sibuk berdebat untuk menerima atau menolak ajaran Kristus. Tidak ada hal apa pun yang Kristus sembunyikan dari mereka. Itu sebabnya Dia mendesak semua orang untuk segera menerima ajaran-Nya. Orang Israel tidak punya alasan untuk menolak Yesus setelah semua tanda dan ajaran yang Dia nyatakan kepada mereka.

Yesus diutus oleh Bapa yang tidak dikenal oleh orang Israel. Mereka merasa diri mereka mengenal Allah, tetapi mereka tidak pernah benar-benar memahami apa yang Allah kerjakan. Segera Yesus akan kembali kepada Bapa di surga, dan setiap orang yang menolak Dia akan selamanya dijauhkan dari Bapa di surga. Mereka akan selamanya hidup sebagai umat Tuhan tetapi tidak mengenal Tuhan. Mereka akan binasa walaupun mereka adalah umat Allah. Yesus, yang mau mereka bunuh, terus memperingatkan mereka agar mereka tidak binasa. Tetapi semakin diperingatkan, semakin mereka menjauhi Tuhan. Semakin Tuhan membukakan kebenaran-Nya, semakin mereka mengeraskan hati, salah mengerti, dan menolak Dia sama sekali. Sungguh benar apa yang dikatakan di awal Injil ini. Dia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi milik kepunyaan-Nya itu menolak Dia (Yoh. 1:11). Tetapi siapa pun yang menolak Dia akhirnya tidak sanggup pergi ke tempat Dia akan pergi. Jika seseorang rela mengikut Tuhan ke mana pun, barulah sukacita pengharapan surgawi menjadi milik Dia. Tetapi tanpa belas kasihan Tuhan dan kesetiaan-Nya, tidak akan ada seorang pun yang akan memiliki pengharapan mengenal Tuhan dan bertemu dengan Tuhan.

Untuk direnungkan:
Sungguh keras hati orang-orang yang menolak Yesus Kristus. Tidakkah mereka tahu betapa besar kasih-Nya bagi Israel? Tidakkah mereka tahu kerelaan Dia untuk berkorban bagi umat-Nya? Tetapi mereka mengeraskan hati mereka, dan karena itu mereka akan binasa. Demikianlah hati orang berdosa itu. Kita mewarisi kekerasan hati yang sama dengan mereka: Sama jahatnya, sama sombongnya, sama kerasnya, sama bodohnya. Semakin hati kita keras, semakin kita sanggup melawan Tuhan, semakin kita merasa hebat. Kita berbangga dengan keadaan binasa kita! Betapa kasihan orang-orang seperti kita ini. Sampai kapankah kita membiarkan hati kita menipu kita dan membawa kita kepada kebinasaan?

Tetapi Yesus mengasihi mereka, dan Yesus mengasihi kita juga. Yesus terus berseru selagi masih ada kesempatan. Selagi Dia bersama-sama dengan mereka, Dia akan mengatakan apa pun yang diperlukan agar mereka berbalik dan selamat, walaupun perkataan itu justru membuat Dia harus mati. Dia rela mati demi orang-orang yang ingin mematikan Dia! Kasih-Nya yang besar membuat Dia memilih keselamatan umat-Nya ketimbang nyawa-Nya sendiri. Datanglah kepada Dia. Jangan keraskan hati ketika masih ada seruan firman Tuhan ditanamkan oleh Roh Kudus ke dalam hati kita. Jika kita terus keraskan hati, seruan itu pada akhirnya akan berhenti dan kita tertutup di luar Allah sampai selama-lamanya. Tidak sadarkah kita bahwa kita memerlukan Allah? Tetapi kita terus mengabaikan panggilan-Nya.

Hanya jika kita datang kepada Dia, barulah kita tahu dari mana Dia berasal. Setelah kita menjalankan perintah-Nya, barulah kita tahu Siapa yang mengutus Dia. Setelah kita percaya kepada Dia, barulah kita tahu pengharapan apa yang dimiliki di dalam Dia yang memiliki tempat di sebelah kanan Allah, Bapa di surga. Semoga Tuhan memberikan kita hati yang digerakkan untuk datang kepada Yesus, hati yang menaati Yesus, iman dan pengharapan yang diarahkan kepada Yesus. (JP)