Mewujudkan Pembelajaran Abad 21 dan HOTS melalui Penguatan  Keterampilan Proses Guru dalam PBM

Dikirim oleh: Mr. Maratur

Diimplementasikannya kurikulum 2013 (K-13) membawa konsekuensi guru yang harus semakin berkualitas dalam melaksanaan kegiatan pembelajaran. Mengapa demikian? Karena K-13 mengamanatkan penerapan pendekatan saintifik (5M) yang meliputi mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, menalar/ mengasosiasikan, dan mengomunikasikan. Lalu optimalisasi peran guru dalam melaksanakan pembelajaran abad 21 dan HOTS (Higher Order Thinking Skills).  

Selanjutnya ada integrasi literasi dan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) dalam proses belajar mengajar (PBM). Pembelajaran pun perlu dilaksanakan secara kontekstual dengan menggunakan model, strategi, metode, dan teknik sesuai dengan karakteristik Kompetensi Dasar (KD) agar tujuan pembelajaran tercapai.

Pembelajaran abad 21 secara sederhana diartikan sebagai pembelajaran yang memberikan kecakapan abad 21 kepada peserta didik, yaitu 4C yang meliputi: (1) Communication (2) Collaboration, (3) Critical Thinking and problem solving, dan (4) Creative and Innovative. Berdasarkan Taksonomi Bloom yang telah direvisi oleh Krathwoll dan Anderson, kemampuan yang perlu dicapai siswa bukan hanya LOTS (Lower Order Thinking Skills) yaitu C1 (mengetahui) dan C-2 (memahami), MOTS (Middle  Order Thinking Skills) yaitu C3 (mengaplikasikan) dan C-4 (mengalisis), tetapi juga harus ada peningkatan sampai HOTS (Higher Order Thinking Skills), yaitu C-5 (mengevaluasi), dan C-6 (mengkreasi).

Penerapan pendekatan saintifik, pembelajaran abad 21 (4C), HOTS, dan integrasi literasi dan PPK dalam pembelajaran bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan dalam rangka menjawab tantangan, baik tantangan internal dalam rangka mencapai 8 (delapan) SNP dan tantangan eksternal, yaitu globalisasi.

Untuk mewujudkan hal tersebut di atas, maka guru sebagai ujung tombak pebelajaran harus mampu merencanakan dan melaksanakan PBM yang berkualitas. Menurut Surya (2014:333) proses belajar mengajar pada hakikatnya adalah suatu bentuk interaksi antara pihak pengajar dan pelajar yang berlangsung dalam situasi pengajaran dan untuk mencapai tujuan pengajaran. Dalam interaksi itu akan terjadi proses komunikasi timbal balik antara pihak-pihak yang terkait yaitu antara guru dan selaku pengajar dan siswa selaku pelajar.

Perilaku belajar yang terjadi pada pada diri siswa timbul sebagai akibat perilaku mengajar pada guru yang terkait melalui melalui suatu bentuk komunikasi. Jenis komunikasi yang terjadi dalam proses belajar mengajar disebut sebagai komunikasi instruksional yang di dalamnya terkait komunikasi dua arah antara pengajar dan pelajar. Oleh karena itu, komunikasi jenis ini disebut sebagai komunikasi dialogis. Dengan komunikasi jenis ini, terjadilah perilaku mengajar dan perilaku belajar yang saling terkait satu dengan yang lainnya untuk mencapai tujuan insruksional.

Untuk mewujudkan pembelajaran abad 21 dan HOTS, guru harus memiliki keterampilan proses yang baik dalam pembelajaran. Keterampian proses dapat diartikan sebagai keterampilan guru dalam menyajikan pembelajaran yang mampu memberikan pengalaman belajar yang bermakna dan menyenangkan bagi siswa. Pembelajaran  berpusat kepada siswa (student center), dan merangsang siswa untuk menyelesaikan masalah. Peran guru dalam PBM bukan hanya sebagai sumber belajar, tapi juga sebagai fasilitator.

Menurut Azhar, keterampilan proses merupakan kemampuan siswa untuk mengelola (memperoleh) yang didapat dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) yang memberikan kesempatan seluas-luasnya pada siswa untuk mengamati, menggolongkan, menafsirkan, meramalkan, menerapkan, merencanakan penelitian, mengkomunikasikan hasil perolehan tersebut. 

Sedangkan menurut Conny Semiawan, pendekatan keterampilan proses adalah pengembangan sistem belajar yang mengefektifkan siswa (CBSA) dengan cara mengembangkan keterampilan memproses perolehan pengetahuan sehingga peserta didik akan menemukan, mengembangkan sendiri fakta dan konsep serta menumbuhkan sikap dan nilai yang dituntut dalam tujuan pembelajaran khusus.

Menurut Mulyasa, (2006:70-92) ada 8 (delapan) keterampilan yang harus dimiliki oleh guru untuk menciptakan pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan, antara lain (1) keterampilan bertanya, (2) memberikan penguatan, (3mengadakan variasi, (4) menjelaskan, (5) membuka dan menutup pelajaran, (6) membimbing diskusi kelompok kecil, (7) mengelola kelas, dan (8) mengajar kelompok kecil dan perorangan.

Keterampilan bertanya, antara lain keterampilan guru dalam menyampaikan pertanyaan kepada siswa. Tujuannya untuk melakuan menguji pengetahuan dan pemahaman terhadap materi tertentu, melakukan pendalaman, penelusuran, mengklarifikasi, menguji kemampuan berpikir kritis siswa, serta kemampuan untuk menyelesaikan masalah. Pertanyaan bisa disampaikan baik secara lisan ataupun tertulis.

Acuannya dan etikanya antara lain, pertanyaan yang disampaikan harus singkat, padat, dan jelas, redaksinya dapat dipahami oleh siswa, dan mampu menarik perhatian siswa. Pertanyaan harus menyebar, semua siswa diberi hak yang sama untuk menerima dan menjawab pertanyaan guru, jangan diberikan kepada siswa-siswa tertentu saja. 

Pertanyaan harus bersifat terbuka, jangan langsung ditujukan kepada siswa tertentu, pastikan bahwa siswa siap menjawabnya, karena kalau diberikan kepada siswa yang tidak atau belum siap, berpotensi akan mempermalukan siswa di hadapan teman-temannya. Pertanyaan juga bukan diberikan untuk memberikan sanksi kepada siswa yang kurang memperhatikan materi yang disampaikan oleh guru.

Keterampilan memberikan penguatan merupakan respon guru terhadap suatu perilaku yang dapat meningkatkan kemungkinan terulangnya kembali perilaku tersebut. Penguatan dapat dilakukan secara verbal atau non verbal. Secara verbal misalnya melalui kalimat “…oleh karena itu, bapak/ibu ingin tegaskan kepada kalian bahwa…”,   “bapak/ibu akan ingin menggarisbawahi bahwa…”, “bapak/ibu ingin menekankan bahwa…”, “tepat sekali apa yang disampaikan oleh teman kalian tadi bahwa…”, dan sebagainya. 

Penguatan non verbal antara lain melaui gerakan mendekati peserta didik, acungan jempol, raut wajah yang ikut meyakinkan penjelasan atau jawaban siswa, dan sebagainya. Penguatan dapat dilakukan kepada individu, kelompok tertentu, atau kepada siswa secara keseluruhan.

Keterampilan melakukan variasi bertujuan agar pembelajaran berjalan menyenangkan dan para siswa tetap memperhatikan penjelasan dari guru, dan agar tujuan pembelajaran. Bentuknya, antara lain, variasi penggunaan model, srategi, metode dan teknik mengajar, variasi alat raga/ media pembelajaran, variasi sumber belajar, variasi lokasi meja guru dan siswa, variasi kelompok belajar, variasi nada suara (rendah, sedang tinggi), gerakan tubuh, mimik wajah, tatapan mata, dan sebagainya. Untuk mengusir kebosanan, memusatkan atau menarik perhatian siswa, guru juga sewaktu-waktu boleh melakuan ice breaker yang tetap memiliki pesan pendidikan.

Kemampuan menjelaskan adalah kemampuan guru dalam mendeskripsikan secara lisan tentang sebuah benda, keadaan, fakta, dan data sesuai dengan waktu dan hukum-hukum yang berlaku. Kemampuan menjelaskan sangat penting bagi guru, karena PBM biasanya didominasi oleh penjelasan, baik menjelaskan materi pelajaran atau penjelasan instruksi kerja yang harus dikerjaka oleh siswa.

Penjelasan guru yang baik antara lain; suaranya dapat didengar oleh siswa, nada suaranya proporsional, tidak terlalu rendah, dan tidak terlalu tinggi, tidak  berbelit-belit, menyampaian ilustrasi dan penguatan yang tepat dan relevan dengan materi yang disampaikan. Menggunakan alat peraga atau media pembelajaran untuk membantu memperjelas materi, dan penggunaan bahasa tubuh yang tepat untuk membantu menegaskan sebuah penjelasan.

Kemampuan membuka dan menutup pembelajaran akan terlihat mulai dari gaya dan sikap guru ketika mengajar. Kemampuan ini akan berpengaruh terhadap pencapaian tujuan pembelajaran. Kegiatan pembelajaran terbagi menjadi tiga bagian, yaitu kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Porsinya biasanya 10% kegiatan awal, 80% kegiatan inti, dan 10% kegiatan penutup. Deskripsi kegiatan pembelajaran sebelumnya sudah disusun dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan dilaksanakan pada saat tatap muka dengan siswa di kelas.

Langkah-langkah kegiatan awal antara lain; guru mengucap salam, guru mengajak siswa untuk berdoa, mengecek kehadiran siswa, mengecek kesiapan belajar siswa, menyampaikan tujuan pembelajaran, dan menyampaikan apersepsi atau mengaitkan pembelajaran sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari saat itu.

Langkah-langkah kegiatan inti antara lain; guru menjelaskan materi, guru menerapkan model, strategi, metode, dan teknik mengajar yang telah ditetapkan dalam RPP. Kegiatan inti merupakan jantungnya pembelajaran. Disitulah pendekatan saintifik, pembelajaran abad 21, HOTS, integrasi literasi dan PPK diterapkan. Walau skenarionya  telah disusun dalam RPP, tetapi dalam prakteknya dapat disesuaikan dengan situasi dan kondisi kelas. Oleh karena itu, guru harus memiliki kepekaan dan cepat mengambil keputusan untuk menentukan strategi pembelajaran yang akan digunakan.

Langkah-langkah kegiatan penutup antara lain; guru mengajak siswa untuk menyimpulkan materi, melakukan refleksi, dan menyusun program tindak lanjut.

Kemampuan membimbing kelompok diskusi kelompok kecil maksudnya adalah kemampuan guru dalam menyusun kelompok diskusi, mengatur dan mengendalikan jalannya diskusi. Jumlah siswa dalam sebuah kelompok diskusi harus proporsional. Jangan terlalu sedikit dan jangan terlalu banyak (antara 3-5 orang setiap kelompok), diupayakan jangan ada penumpukan jenis kelamin siswa atau tingkat kemampuan siswa tertentu dalam sebuah kelompok. Bentuklah kelompok secara variatif. Dipuayakan seorang siswa jangan hanya bergabung dengan kelompok itu-itu lagi, supaya tidak terkesan ekslusif, melatih kemampuannya berkomunikasi dan bersosialisasi dengan teman-teman yang beragam latar belakang dan karakter.

Saat diskusi berlangsung, guru mengamati tiap kelompok, berkeliling, mendekati, dan membimbing diskusi kelompok. Siapa tahu ada kelompok yang memerlukan bantuan atau penjelasan dari guru. Guru pun harus cermat dalam mengatur waktu diskusi kelompok baik ketika menyusun kelompok, mengerjakan tugas, dan presentasi kelompok.

Keterampilan mengelola kelas merupakan keterampilan guru dalam menciptakan dan mengendalikan suasana pembelajaran yang kondusif, baik pada aspek psikologis maupun pada aspek lingkungan fisik. Pada aspek psikologis seperti mengecek kesiapan belajar siswa, dan berkomunikasi serta berinteraksi dengan siswa, mengendalikan emosi, dan sebagainya. Sedangkan pada aspek lingkungan, seperti menata ruang kelas, menata tempat duduk siswa, dan memperhatikan kebersihan ruang kelas.

Keterampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan maksudnya adalah harus mampu mengajar siswa baik secara kelompok atau pun perseorangan serta menentukan strategi yang tepat untuk melakukannya agar tujuan pembelajaran tercapai. Dalam hal menyampaikan materi pelajaran, guru memperhatikan tingkat kemampuan berpikir siswa, dan memiliki kepekaan terhadap kebutuhan dan keinginan siswa, karena pada dasarnya guru adalah pelayanan dan fasilitator bagi siswa untuk menguasai sejumlah kompetensi yang telah ditetapkan sebelumnya.

Melalui berbagai pelatihan atau bimbingan teknis (bimtek) K-13 yang telah dilakukan selama ini diharapkan mampu mengubah paradigma guru, juga meningkatkan kompetensi guru dalam pembelajaran. Pendekatan saintifik, pembelajaran abad 21 (4C), HOTS, integrasi literasi dan PPK, dan pembelajaran kontekstual sebenarnya bukan hal yang baru bagi guru. Secara sadar ataupun tidak sebenarnya sudah hal tersebut dilakukan, hanya dalam K-13 lebih ditegaskan lagi untuk dilaksanakan pada PBM, dan hasilnya dilakukan melalui penilaian otentik yang mampu mengukur ketercapaian kompetensi siswa.

 September 2018   20:51  54460  3 0

Acuannya dan etikanya antara lain, pertanyaan yang disampaikan harus singkat, padat, dan jelas, redaksinya dapat dipahami oleh siswa, dan mampu menarik perhatian siswa. Pertanyaan harus menyebar, semua siswa diberi hak yang sama untuk menerima dan menjawab pertanyaan guru, jangan diberikan kepada siswa-siswa tertentu saja. 

Pertanyaan harus bersifat terbuka, jangan langsung ditujukan kepada siswa tertentu, pastikan bahwa siswa siap menjawabnya, karena kalau diberikan kepada siswa yang tidak atau belum siap, berpotensi akan mempermalukan siswa di hadapan teman-temannya. Pertanyaan juga bukan diberikan untuk memberikan sanksi kepada siswa yang kurang memperhatikan materi yang disampaikan oleh guru.

Keterampilan memberikan penguatan merupakan respon guru terhadap suatu perilaku yang dapat meningkatkan kemungkinan terulangnya kembali perilaku tersebut. Penguatan dapat dilakukan secara verbal atau non verbal. Secara verbal misalnya melalui kalimat “…oleh karena itu, bapak/ibu ingin tegaskan kepada kalian bahwa…”,   “bapak/ibu akan ingin menggarisbawahi bahwa…”, “bapak/ibu ingin menekankan bahwa…”, “tepat sekali apa yang disampaikan oleh teman kalian tadi bahwa…”, dan sebagainya. 

Penguatan non verbal antara lain melaui gerakan mendekati peserta didik, acungan jempol, raut wajah yang ikut meyakinkan penjelasan atau jawaban siswa, dan sebagainya. Penguatan dapat dilakukan kepada individu, kelompok tertentu, atau kepada siswa secara keseluruhan.

Keterampilan melakukan variasi bertujuan agar pembelajaran berjalan menyenangkan dan para siswa tetap memperhatikan penjelasan dari guru, dan agar tujuan pembelajaran. Bentuknya, antara lain, variasi penggunaan model, srategi, metode dan teknik mengajar, variasi alat raga/ media pembelajaran, variasi sumber belajar, variasi lokasi meja guru dan siswa, variasi kelompok belajar, variasi nada suara (rendah, sedang tinggi), gerakan tubuh, mimik wajah, tatapan mata, dan sebagainya. Untuk mengusir kebosanan, memusatkan atau menarik perhatian siswa, guru juga sewaktu-waktu boleh melakuan ice breaker yang tetap memiliki pesan pendidikan.

Kemampuan menjelaskan adalah kemampuan guru dalam mendeskripsikan secara lisan tentang sebuah benda, keadaan, fakta, dan data sesuai dengan waktu dan hukum-hukum yang berlaku. Kemampuan menjelaskan sangat penting bagi guru, karena PBM biasanya didominasi oleh penjelasan, baik menjelaskan materi pelajaran atau penjelasan instruksi kerja yang harus dikerjaka oleh siswa.

Penjelasan guru yang baik antara lain; suaranya dapat didengar oleh siswa, nada suaranya proporsional, tidak terlalu rendah, dan tidak terlalu tinggi, tidak  berbelit-belit, menyampaian ilustrasi dan penguatan yang tepat dan relevan dengan materi yang disampaikan. Menggunakan alat peraga atau media pembelajaran untuk membantu memperjelas materi, dan penggunaan bahasa tubuh yang tepat untuk membantu menegaskan sebuah penjelasan.

Kemampuan membuka dan menutup pembelajaran akan terlihat mulai dari gaya dan sikap guru ketika mengajar. Kemampuan ini akan berpengaruh terhadap pencapaian tujuan pembelajaran. Kegiatan pembelajaran terbagi menjadi tiga bagian, yaitu kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Porsinya biasanya 10% kegiatan awal, 80% kegiatan inti, dan 10% kegiatan penutup. Deskripsi kegiatan pembelajaran sebelumnya sudah disusun dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan dilaksanakan pada saat tatap muka dengan siswa di kelas.

Langkah-langkah kegiatan awal antara lain; guru mengucap salam, guru mengajak siswa untuk berdoa, mengecek kehadiran siswa, mengecek kesiapan belajar siswa, menyampaikan tujuan pembelajaran, dan menyampaikan apersepsi atau mengaitkan pembelajaran sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari saat itu.

Langkah-langkah kegiatan inti antara lain; guru menjelaskan materi, guru menerapkan model, strategi, metode, dan teknik mengajar yang telah ditetapkan dalam RPP. Kegiatan inti merupakan jantungnya pembelajaran. Disitulah pendekatan saintifik, pembelajaran abad 21, HOTS, integrasi literasi dan PPK diterapkan. Walau skenarionya  telah disusun dalam RPP, tetapi dalam prakteknya dapat disesuaikan dengan situasi dan kondisi kelas. Oleh karena itu, guru harus memiliki kepekaan dan cepat mengambil keputusan untuk menentukan strategi pembelajaran yang akan digunakan.

Langkah-langkah kegiatan penutup antara lain; guru mengajak siswa untuk menyimpulkan materi, melakukan refleksi, dan menyusun program tindak lanjut.

Kemampuan membimbing kelompok diskusi kelompok kecil maksudnya adalah kemampuan guru dalam menyusun kelompok diskusi, mengatur dan mengendalikan jalannya diskusi. Jumlah siswa dalam sebuah kelompok diskusi harus proporsional. Jangan terlalu sedikit dan jangan terlalu banyak (antara 3-5 orang setiap kelompok), diupayakan jangan ada penumpukan jenis kelamin siswa atau tingkat kemampuan siswa tertentu dalam sebuah kelompok. Bentuklah kelompok secara variatif. Dipuayakan seorang siswa jangan hanya bergabung dengan kelompok itu-itu lagi, supaya tidak terkesan ekslusif, melatih kemampuannya berkomunikasi dan bersosialisasi dengan teman-teman yang beragam latar belakang dan karakter.

Saat diskusi berlangsung, guru mengamati tiap kelompok, berkeliling, mendekati, dan membimbing diskusi kelompok. Siapa tahu ada kelompok yang memerlukan bantuan atau penjelasan dari guru. Guru pun harus cermat dalam mengatur waktu diskusi kelompok baik ketika menyusun kelompok, mengerjakan tugas, dan presentasi kelompok.

Keterampilan mengelola kelas merupakan keterampilan guru dalam menciptakan dan mengendalikan suasana pembelajaran yang kondusif, baik pada aspek psikologis maupun pada aspek lingkungan fisik. Pada aspek psikologis seperti mengecek kesiapan belajar siswa, dan berkomunikasi serta berinteraksi dengan siswa, mengendalikan emosi, dan sebagainya. Sedangkan pada aspek lingkungan, seperti menata ruang kelas, menata tempat duduk siswa, dan memperhatikan kebersihan ruang kelas.

Keterampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan maksudnya adalah harus mampu mengajar siswa baik secara kelompok atau pun perseorangan serta menentukan strategi yang tepat untuk melakukannya agar tujuan pembelajaran tercapai. Dalam hal menyampaikan materi pelajaran, guru memperhatikan tingkat kemampuan berpikir siswa, dan memiliki kepekaan terhadap kebutuhan dan keinginan siswa, karena pada dasarnya guru adalah pelayanan dan fasilitator bagi siswa untuk menguasai sejumlah kompetensi yang telah ditetapkan sebelumnya.

Melalui berbagai pelatihan atau bimbingan teknis (bimtek) K-13 yang telah dilakukan selama ini diharapkan mampu mengubah paradigma guru, juga meningkatkan kompetensi guru dalam pembelajaran. Pendekatan saintifik, pembelajaran abad 21 (4C), HOTS, integrasi literasi dan PPK, dan pembelajaran kontekstual sebenarnya bukan hal yang baru bagi guru. Secara sadar ataupun tidak sebenarnya sudah hal tersebut dilakukan, hanya dalam K-13 lebih ditegaskan lagi untuk dilaksanakan pada PBM, dan hasilnya dilakukan melalui penilaian otentik yang mampu mengukur ketercapaian kompetensi siswa. 

Sumber Bacaan :

https://www.kompasiana.com/idrisapandi/5b8e7fcd12ae9436241aabf5/mewujudkam-pembelajaran-abad-21-dan-hots-melalui-penguatan-keterampilan-proses-guru-dalam-pbm?page=2

Penulis :  Widyaiswara Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Jawa Barat, Penulis Artikel dan Buku, Trainer Menulis, Pembicara Seminar-seminar Pendidikan.